Insan
Pers
Toeti Prahas Adhitama ; Anggota Dewan Redaksi Media Group
|
MEDIA
INDONESIA, 14 Februari 2014
|
TENTANG pers, suatu
kali Jenderal Moerdiono (alm) menyatakan, “Saya tidak bisa bayangkan apa
jadinya kalau tidak ada pers.“ Di lain pihak, Jenderal LB Moerdani (alm)
bernada agak keras, “The press thinks he is Jesus Christ, but he is not.“
Itulah dua sisi mata uang mengenai pers di mata pejabat. Pers diperlukan,
tetapi sekaligus dihujat.
Akhir pekan lalu,
sekitar 1.250 insan pers berkumpul di Bengkulu untuk merayakan Hari Pers
Nasional dan pertemuan Serikat Perusahaan Pers; kehadiran terbanyak selama
ini. Mungkin sebagian terpikat jadwal semula yang mengundang sejumlah capres
yang sering muncul di pers. Rencananya, mereka akan berbicara dalam sebuah
panel tanya-jawab dengan yang hadir. Ternyata mereka absen. Hanya tampak Dino
Pati Djalal, Mahfud MD, dan Dahlan Iskan. Bahwa banyak capres absen, tentu
mengecewakan.
Pembahasan dalam
konvensi antara lain berkisar tentang peran dan tanggung jawab pers untuk
kemajuan bangsa dan bagaimana memajukan industri pers sebagai pendukung
misinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir untuk menyatakan terima
kasihnya kepada pers, tetapi juga mengungkapkan kekecewaan karena pers kurang
bersahabat terhadap diri dan keluarganya. Menurut Ketua Dewan Pers Bagir
Manan, selama 2013 terjadi 700 pengaduan publik terkait pemberitaan pers.
Pers di mata pers dan publik
Untuk mengenali
jaringan sosial yang ada, pers berperan penting bagi masyarakat. Pers
dituntut menunaikan tugas sejarahnya sebagai pelindung demokrasi. Dalam hal
kita, demokrasi Pancasila. Maka insan pers diharapkan bersikap informatif,
edukatif, dan objektif.
Tentu ada di kalangan
masyarakat pers yang bersikap ceroboh, tidak membuat persiapan yang baik,
atau membosankan. Ada pula yang gemar sensasi, memutarbalikkan fakta, dan
salah menginterpretasi situasi. Tetapi, insan pers yang ideal umumnya bekerja
keras dan tidak bosan memperluas pengetahuan dan menyempurnakan keterampilan
berekspresi. Menjadi komitmen insan pers untuk memberitakan dengan cepat bila
bahaya membayangi masyarakat; mungkin akibat situasi ekonomi, politik dan
sosial umumnya; maupun bencana alam seperti sekarang.
Di luar tugasnya,
insan pers masih mempunyai tanggung jawab karena anggapan masyarakat terhadap
dirinya. Misalnya, masyarakat umumnya menganggap mereka serba tahu dan
mungkin serbabisa, walaupun ada yang selalu mencurigainya dan tidak
memercayainya. Insan pers, karena itu, sebaiknya sadar, dia bukan sekadar
penyampai berita, tetapi penyaring dan pengolah informasi yang efisien,
berwawasan luas, dan canggih.
Tentu kalangan pers
mengakui, tidak semua anggotanya memiliki kemampuan ideal seperti tersebut di
atas. Namun, mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan diri sebagai insan
pers ideal yang dilandasi keinginan untuk berbakti dan membangun masyarakat
lebih baik, mengingat sebagai bangsa, kita masih dihadang berbagai kesulitan
yang membelenggu demokrasi; masalah kemiskinan, polusi, dan maraknya korupsi
yang mengganggu ketertiban masyarakat. Insan pers sebenarnya memiliki potensi
untuk menjadi komunikator yang diperlukan masanya.
Memang ada segolongan
masyarakat yang tidak hentihentinya berceloteh tentang keburukan media massa
masa kini, yang membuat kita berpikir, jangan-jangan benar demikian? Apakah
benar media massa membosankan dan tidak sepenuhnya objektif? Faktanya,
objektivitas bersifat relatif, khususnya dalam situasi tidak tertib dan tidak
rapi seperti saat ini. Selalu timbul keberpihakan. Dalam hal media massa,
walaupun belum-belum sudah dicurigai, sebenarnya kami meyakini harus berpihak
kepada rakyat. Inilah pesan hakiki demokrasi.
Sejujurnya, mungkin
pemerintah sekarang merasa kewalahan menghadapi media massa yang dinamis
kalau bukan agresif, yang mengibarkan bendera demokrasi. Namun, jangan
mengira seluruh insan pers bekerja sambil lalu. Selain SDM yang berpendidikan
formal memadai, kelompok tenaga risetnya pun kuat. Sekarang ini, misalnya,
media massa sedang tekun mempelajari pengaruh konvergensi media sosial;
bagaimana perkembangan teknologi harus tekun diikuti demi misi yang lebih
sempurna dan cepat menyebar ke seluruh masyarakat.
Kekuatan pengimbang
Memang perlu ada media
penerangan lain yang mengimbangi media massa swasta yang sering dianggap
mengedepankan sensasi demi rejeki semata. Idealnya ada media penerangan
bermutu seperti BBC di London; yang secara universal dianggap objektif dan
dapat dipercaya, sekalipun berlandaskan penerangan negara. Dalam kaitan ini,
media massa umum nya menyadari kaum intelektual memainkan peran penting
sebagai perantara yang menghubungkan kaum penguasa dan masyarakat.
Lebih-lebih
orang-orang media massa pun tidak homogen.
Itu menjelaskan mengapa
Indira Gandhi (1917-1984), negarawan yang pernah dua kali menjabat perdana
menteri, dalam suasana darurat di negaranya sekitar 1975 mengatakan, `'Saya
benci penyensoran.'' Tetapi penyensoran toh dia lakukan karena koran-koran
waktu itu berkampanye menentang pemerintah dan merongrong rasa percaya
masyarakat. Sekadar catatan, pers India seperti juga pers Indonesia,
memainkan peran penting dalam gerakan kemerdekaan. Sampai sekarang pun
keduanya rasanya masih menjadi forum penting untuk mengekspresikan pendapat
umum.
Mahatma Gandhi (18691948)
politikus dan pemimpin spiritual dalam gerakan nasionalis di negaranya,
pernah mengatakan, pers seharusnya bertujuan, “Bisa mengerti perasaan publik dan mengekspresikannya; juga
membangkitkan gagasan yang perlu bagi publik; dan berani mengungkap
kekurangan yang ada.“ Spirit itu yang antara lain menjawab mengapa insan
pers, di mana-mana, bersikap dan berperilaku seperti sekarang. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar