Senin, 13 Januari 2014

Melawan Bosan dengan Berpikir Kreatif (2)

               Melawan Bosan dengan Berpikir Kreatif (2)

Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA,  13 Januari 2014
                                                                                                                        


SELAIN tidak ada keberanian dalam melawan aturan formal, penyakit lain dari guru adalah kekhawatiran berlebih sehingga malas untuk mencoba. Dalam beberapa sesi workshop, saya sering menyinggung keengganan mereka untuk mencoba hal baru dengan satu contoh kecil, yaitu masalah niat. Dalam agama, terutama Islam, niat merupakan fondasi setiap perilaku manusia. Dalam proses pelatihan, sering guru begitu terkesima ketika mendengar contohcontoh pembelajaran kreatif yang saya dan teman-teman guru berikan berdasarkan pengalaman mengajar.

Ketika ditanya kepada mereka, apakah contoh-contoh tersebut bisa dan mau dilakukan di sekolah mereka, selalu secara serempak mereka bilang mau dan bisa. Ketika jawaban mereka seragam dan berkata, “Mau dan bisa,” saya ke mudian mengeluarkan uang Rp50 ribu dari dompet saya, kemudian saya tantang peserta, “Siapa yang mau uang Rp50 ribu ini?” Biasanya hampir semua guru serempak bilang, “Mau Pak, mau Pak, mauuu....”.

Namun, anehnya hampir seluruh guru hanya cukup teriak mau sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Tak satu pun yang bergerak maju ke arah saya dan mengambil uang tersebut. Melihat situasi ini, co fasilitator saya langsung bergerak ke arah saya dan mengambil uang tersebut dari tangan saya dan mengantonginya seraya pergi.

Saya katakan kepada para guru, itulah masalah mereka. Punya niat, punya kemauan dan mengatakan bisa melakukannya, tetapi tetap diam di tempat tanpa ada aksi. Contohnya mereka bilang mau uang Rp50 ribu, tetapi tak satu pun yang berdiri dan bergerak untuk mengambil uang tersebut. Begitulah kirakira mentalitas guru kita, merasa bisa, merasa mampu, dan merasa dapat berpikir kreatif, tetapi enggan untuk bergerak dan melakukannya. Omong doang (omdo), NATO (no action, talk only), dan tidak ada kehendak seperti iklan sebuah produk, less talk do more, begitulah gambaran kreativitas guru-guru kita saat ini. Padahal, tuntutan utama dari aplikasi kurikulum 2013 adalah kreativitas.

Ada yang hilang

Being practical merupakan sesuatu yang hilang dalam kreativitas mengajar. Padahal, seharusnya di benak para guru tumbuh praduga bahwa saudara kandung dari terlalu logis dalam proses berpikir adalah terlalu praktis. Seperti logika, kepraktisan adalah sangat penting ketika tahap eksekusi, tetapi sering menghambat ide-ide inovatif sebelum mereka dapat benar mekar. Jangan biarkan editor masuk ke ruangan yang sama dengan artis batin kita. Cobalah un tuk tidak mengevaluasi kelayakan dari setiap ide yang muncul. Luangkan waktu untuk banyak bertanya, “Bagaimana jika?“, sesering mungkin, dan biarkan imajinasi kita untuk per gi ke mana yang diinginkannya.

Membiarkan pikiran kita `bermain' mung kin merupakan cara yang paling efektif untuk merangsang pemikiran kreatif. Akan mikiran kreatif. Akan tetapi, banyak orang memisahkan bermain dari pekerjaan. Hari-hari ini, orang-orang yang bisa datang dengan ide-ide besar dan solusi yang paling ekonomis dihargai, sedang kan lebah pekerja hanya digunakan untuk kepentingan para pemikir kreatif. Contohnya pada pengem bangan produk baru. Studi menun jukkan bahwa orang yang berkontribusi ide dan saran lebih kreatif ketika mereka memiliki prototipe atau model produk untuk didiskusi kan. Ini tidak harus sempurna. Kuncinya adalah memiliki sesuatu yang membantu orang memvisualisasikan produk. Hal ini memungkinkan kita untuk berkontribusi lebih cepat dalam pengembangannya.

Dalam era hiperspesialisasi, banyak orang yang terjebak hanya pada bidang tugasnya masing-masing, dan enggan untuk menjelajah ke bidangbidang lain di luar itu. Padahal, orang kreatif perlu penjelajahan yang luas. Know-it-alls, ingin tahu segala, menjadi cikal bakal bagi tumbuh suburnya kreativitas. Tentu, kita harus mengetahui hal-hal khusus dalam bidang kita, tetapi jika kita juga melihat diri sendiri sebagai penjelajah daripada menjadi gigi yang sangat khusus dalam mesin, kita akan menjadi kreator sukses.

Faktor lain yang juga menghambat kreativitas adalah biasanya kebanyakan orang dewasa takut terlihat bodoh dan inilah yang merupakan salah satu kendala terbesar untuk berpikir kreatif. Pernahkah kita sebagai guru, dalam rapat dewan guru, ragu-ragu untuk berbicara tentang ide besar yang hanya muncul di kepala kita?

Hampir kita semua demikian. Kita tidak berbicara karena takut dikritik. Setiap orang adalah kritikus dalam rapat. Banyak ide-ide baru diserang dan cepat ditembak jatuh. Dampaknya lebih merusak ketika seorang senior dalam ruangan segera menembak lubang dari ide yang baru dimunculkan. Cara terbaik untuk benar-benar menyebabkan sembelit aliran pemikiran kreatif adalah dengan menembak jatuh atau mengkritik saran baru. Sebaiknya bersikap tenang, mendengarkan, dan memperhatikan apa yang orang lain katakan.

Belajar salah

Hampir semua guru kita punya pandangan tentang ketidaksukaan terhadap kesalahan, tetapi kesalahan sering kali justru mengajarkan banyak hal kepada kita. Thomas Edison salah 1.800 kali sebelum mendapatkan bola lampu yang tepat. Kekuatan terbesar Edison adalah karena ia tidak takut salah. Hal terbaik yang seharusnya kita lakukan adalah belajar dari kesalahan. Sering-seringlah mencoba ide-ide kita dan lihat apa yang terjadi, ambil pelajaran dari itu, dan cobalah sesuatu yang lain. Tanyakan pada diri kita, apa hal terburuk yang bisa terjadi jika kita salah? Kita akan lebih sering menemukan manfaat dari kesalahan daripada konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Menyangkal kreativitas kita sendiri seperti menyangkal kemanusiaan kita. Kita semua sebetulnya sangat kreatif, tetapi tanpa kita sadari kita acap kali membuat batas-batas sendiri dengan cara kita berpikir. Jika kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita tidak kreatif, itu dapat menjadi kenyataan. Hentikan itu. Dalam arti bahwa, membangkitkan kreativitas kita sendiri mirip dengan jalan yang dilaporkan oleh mereka yang mencari pencerahan spiritual. Kita sudah tercerahkan, seperti kita sudah kreatif, tetapi kita harus menelanjangi semua delusi sebelum kita bisa melihatnya. Akui bahwa kita inheren kreatif, dan kemudian mulai meruntuhkan hambatan lain yang muncul dalam pikiran kita sendiri.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar