Minggu, 12 Januari 2014

Elpiji Melonjak, Rakyat Menjerit

Elpiji Melonjak, Rakyat Menjerit

Lestari Agusalim  ;    Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan
Universitas Trilogi, Peneliti PK2PM
SINAR HARAPAN,  11 Januari 2014
                                                                                                                        


Terdapat seribu alasan untuk melakukan kesalahan. Akan tetapi sulit menemukan alasan membenarkannya. Tampaknya itulah yang diperankan pemerintah jelang 2014. Ada berapa isu menarik. Penulis akan mengulas soal melambungnya harga elpiji 12 kg.

Operasi senyap ini berlangsung tepat 1 Januari 2014. Masyarakat Indonesia menyambut Tahun Baru 2014 dengan menjerit akibat melonjaknya harga 12 kg. Tidak salah bila pemerintah melukai hati masyarakat. Bergulirlah kebijakan “menurunkan” harga elpiji. Bagai hujan di siang bolong, pemerintah meresponsnya karena tahu kebijakan melukai rakyat dengan keputusannya yang keliru.

Setelah pro-kontra soal kenaikan harga, pemerintah berdalih membenarkan kebijakannya; Pertama, pertamina mengatakan bisnis mereka kerap merugi. Kedua, harga elpiji di pasar dunia naik. Ketiga, harga elpiji 12 kg di Indonesia termurah di Asia. Keempat, adanya tekanan nilai tukar rupiah. Kelima, Indonesia mengimpor gas. Keenam, konsumen elpiji berasal dari kalangan mampu.

Dalih pertama hingga kelima menunjukkan cara berpikir pemerintah bergeser dari amanat konstitusi. Alias mengangkat bendera putih terhadap sistem ekonomi pasar. Sistem yang jadi alat kekuasaan negara maju menguasai ekonomi dunia.

Dalih keenam mencerminkan lemahnya kajian pertamina soal dampak berganda kenaikan harga elpiji. Efisiensi menjadi keharusan, tetapi tidak instan sehingga menyengsarakan rakyat, maka membutuhkan kajian mendalam, koordinasi, dan konsultasi publik agar tak menimbulkan guncangan ekonomi.

Logika Keliru

Kendati harga elpiji Indonesia termurah di dunia, terlepas benar atau tidaknya, logika pemerintah keliru dalam menaikkan harga elpiji awal Januari 2014. Semula harga elpiji Rp 72.200 melonjak jadi Rp 117.708. Realitanya, harga elpiji di setiap wilayah berbeda-beda, maka ukuran persentase tepat digunakan ketimbang nominal. Kebijakan ini berimbas menaikkan harga rata-rata elpiji 67,67 persen dari harga awal di seluruh Indonesia.

Kita hendaknya mengetahui daya beli masyarakat dunia berbeda. Sama persis dengan daya beli masyarakat Indonesia yang juga berbeda. Imbasnya, kemiskinan akan meningkat kendati sebelum kenaikan harga elpiji angkanya pun sudah naik, apalagi ditambah menaikkan harga elpiji.

Hingga kuartal III/2013, jumlah orang miskin meningkat 480.000 orang (BPS, 2013). Data ini menggambarkan daya beli masyarakat menurun. Khususnya masyarakat kelas menengah bawah. Bila harga elpiji mengikuti harga pasar, daya beli masyarakat kian menurun berimbas meningkatnya jumlah orang miskin. Mestinya bisnis pertamina menguntungkan negara bukan memperburuk kehidupan rakyat, khususnya pengguna elpiji 12 kg.

Imbas dari semua itu membuat konsumen bermigrasi ke elpiji 3 kg. Hal ini menyebabkan beban subsidi membengkak. Bila pemerintah mengeluarkan biaya pengetatan distribusi elpiji 3 kg akan menimbulkan kelangkaan di pasaran. Akibatnya, pedagang cenderung menciptakan aktivitas perburuan rente dengan meningkatkan harga elpiji 3 kg.

Masalahnya, bagaimana pemerintah mendefinisikan kerugian? Benarkah kerugian adalah selisih harga domestik dan pasar internasional? Kendati Indonesia mengimpor gas, sesungguhnya kita juga jadi negara yang mengekspor gas. Indonesia masih memiliki cadangan gas alam ke-12 terbesar di dunia. Jadi, kebijakan menaikkan harga tidaklah tepat. Lebih tepat melakukan efisiensi berkelanjutan melalui pengelolaan dan manajemen sumber daya alam. Bukankah efisiensi bermuara pada kesejahteraan?

Anehnya, tak lama berselang setelah kebijakan ini diluncurkan, akibat rekanan politik publik pertamina malah menurunkan harga elpiji. Walau sudah diturunkan kembali oleh pemerintah, kenaikan harga masih 20,22 persen per tabung.
Keputusan ini dianggap bijak, walaupun terlanjur merugikan pedagang penyetok elpiji. 
Sikap gegabah pemerintah ini sejatinya hanyalah isapan jempol belaka. Dari sisi ekonomi alasan ini terlalu dibesar-besarkan. Apakah ada udang di balik batu?

Sandiwara Politik

Bila alasan ekonomi tidak bisa diterima. Lalu apa sasaran pemerintah memainkan sandiwara politik semacam ini? Di sinilah antiklimaks sikap pemerintah. Ibarat lempar batu sembunyi tangan. Parahnya lagi, Kementerian BUMN dianggap sebagai kambing hitam dari kebijakan ini.

Bahkan, presiden pun turun tangan meminta Pertamina dan BPK meninjau ulang kebijakan ini. Akibatnya, harga elpiji kembali menurun tapi kenyataannya naik. Bagaimana bisa? Mestinya secara ekonomi kalaupun berubah, perubahan harga relatif kecil.

Secara ekonomi politik, semua cerita dibalik kenaikan harga elpiji ini amat bermuatan politik. Tujuannya mendongkrak popularitas elite politik jelang Pemilu 2014. Sayangnya, sandiwara ini amat murahan sehingga menimbulkan ketidakpastian, kerugian ekonomi, serta pembodohan.

Masyarakat tidak menganggap ini kekeliruan pertamina semata, tetapi kelalaian Kabinet Indonesia Bersatu II. Jadi, pemerintah terkesan mengail di air keruh, menaikkan popularitas diri dan golongannya melalui kebijakan kenaikan gas.

Mestinya permainan politik tidak mempertaruhkan kebijakan untuk bagi rakyat. 
Apalagi mendekati pesta demokrasi. Melainkan pertarungan akal sehat dan gagasan bernas yang dapat berujung pada kesejahteraan rakyat. Jika sebaliknya, bukankah hal ini justru membodohi rakyat dan negaranya di hadapan masyarakat internasional?

Imbasnya, hampir semua golongan masyarakat mulai dari kaum ibu, pedagang sektor informal, hingga UKMK menjerit karena tingginya harga elpiji. Mestinya para politikus berjiwa negarawan, berprestasi, dan berkarya nyata, bukan menjual prestasi semu melalui ajang pencitraan di media massa maupun elektronik.

Masyarakat tidak membutuhkan karakter pemimpin demikian, tetapi merindukan pemimpin yang menegakkan kebenaran tanpa sandiwara, pemimpin yang kerap optimistis dan tidak berkeluh kesah. Tugas pemerintah adalah melayani masyarakat agar mewujudkan kehidupan yang berkualitas, bukan memosisikan masyarakat sebagai abdi dalem penguasa dan objek penderita kebijakannya. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar