Bola
Panas Anas
Radhar Panca Dahana ;
Budayawan
|
MEDIA
INDONESIA, 13 Januari 2014
|
“Beberapa kalimat Anas setelah
diinterogasi KPK ialah sebuah ekspresi yang menggambarkan bagaimana
sebenarnya kasus yang membelit dia bukanlah perkara hukum yang innocent,
melainkan juga political game.”
TIDAK lama setelah ia
terpilih menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, saya duduk satu
panel dengan mantan Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) itu dalam
sebuah talk show. Hampir semua
panelis, bahkan moderator, saat itu melihat Anas Urbaningrum sebagai
representasi dari pemerintah karena posisinya tersebut. Termasuk saya.
Tentu saja pandangan
itu keliru karena anak muda yang kalem itu tidak berkaitan sama sekali dengan
pemerintahan dan semua kebijakan yang diproduksinya. Namun, tak ayal, saya
melayangkan banyak kritik--yang tajam bahkan-pada berbagai kebijakan kabinet,
seolah pemuda kelahiran Ngaglik, Srengat, Blitar, Jawa Timur, itu ialah juga
bagian dari kabinet.
Apa yang menarik,
begitu saya dalam hati menyadari kekeliruan saya, anak muda yang menjadi
ketua fraksi termuda sebuah partai politik (parpol) besar itu, belum 40
tahun, hanya tersenyum. Rileks dan santai. Tak ada saraf atau otot yang
tertarik di luar lumrahnya. Dalam menghadapi kritik yang keras dan pedas itu,
ia seperti bergumam, “Saya sejujurnya
sudah lama mengagumi dan membaca buku-buku dan tulisan Mas Radhar.“
Kalimat lembut dan
ringan itu menjadi semacam godam dari sebuah sikap rendah hati dan kematangan
lelaki tergolong muda itu. “Dia politikus sesungguhnya,“ keluh saya dalam
hati, mengingat sebuah cerita tentang komentar Prabowo Subianto setelah kalah
dalam konvensi Golkar beberapa tahun sebelumnya, “Sebagai tentara saya harus mengakui, menjadi politikus itu
membutuhkan otot kawat balung wesi.“
Sebuah ungkapan jujur seorang
jenderal terhadap keuletan luar biasa yang ditunjukkan seorang politikus,
Akbar Tandjung, dalam kasus konvensi itu.
Akbar dan Anas mungkin
berbeda partai, tetapi kita sama mengerti keduanya tampak memiliki karakter,
style, filosofi, juga kedekatan psikologis yang sama. Gaya berpolitik yang
tidak meledak ledak, penuh perhitungan, tajam, cerdas, dan sarat taktik
sebagaimana ditunjukkan `suhu' dari golongan politikus semacam ini; Soeharto.
Saya kira, SBY, presiden petahana, juga termasuk yang mewarisinya. Namun,
tentu saja, style atau kultur politik yang sama tidak harus tidak
berseberangan.
Setelah membaca
latarnya yang kuat dalam kehidupan yang religius, Islam, termasuk di sekolah
formal hingga pergaulan pesantren hingga organisasinya, secara naif saya
sejak mula memiliki harapan baik untuk tokoh muda bernama Anas Urbaningrum
itu. Bahkan dalam sebuah pertemuan lain, saat ditraktir makan enak di sebuah
hotel mewah, secara pribadi saya memberikan dukungan kepadanya yang kala itu
berkompetisi merebut posisi ketua umum di partainya. Saya menitipkan sedikit
pesan, agar jika ia menang--yang saat itu saya coba meyakini dia bahwa
kemenangan itu bakal diraihnya--ia dapat menempatkan kebudayaan sebagai
fondasi dari segala program atau tujuan (partai) politik yang
diperjuangkannya.
Kembali dengan lembut,
sambil menatap mata saya, ia mengangguk. Kami bersalaman dan kembali ke meja
masing-masing. Saya makan steak yang
wuenak dan mahal, sementara di
sudut lain Anas terlihat berbincang serius dengan beberapa temannya. “Politik,“ gumam saya, ialah steak terenak buat mereka. Sepotong tenderloin dengan saus jamur lada
hitam kudorong dengan garpu ke rongga mulutku. Inilah makanan barbar gaya
kontinental. “Seperti politik,“
kataku kepada kawanku, teman lama yang kini pebisnis, sambil tertawa bersama.
Politik yang memasung
Bila beberapa lama
kemudian saya mendengar, membaca, dan melihat bagaimana anak muda dengan
empat putra-putri itu terlibat dalam skandal korupsi yang juga melibatkan
banyak pihak/tokoh, yang notabene teman-temannya juga, saya merasa aneh
karena saya tidak merasa heran dan bingung. Tentu saja bukan karena saya
sudah membaca sejak awal, bahwa teman saya itu memiliki potensi koruptif dan
manipulatif yang besar dalam diri atau karakternya.
Tidak. Karena bila ya,
saya tidak akan menaruh harapan kepadanya. Saya ialah jenis manusia yang
senantiasa percaya bahwa seorang manusia pada mulanya ialah sebuah kebaikan.
Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan kejahatan sebagai bahan atau niat
dasarnya. Karena itu, saya percaya, siapa pun pemimpin yang dipercaya secara
nasional oleh publiknya tentu memiliki kebaikan, baik niat maupun
perjuangannya. Betapa pun akhir dari riwayat sang pemimpin bisa jadi ialah
sebuah tragedi, atau komedi.
Bila akhir itu
mengenaskan, buruk atau negatif, saya kira setidaknya, untuk kasus di negeri
ini, ada dua penyebab. Pertama, manusia atau pemimpin itu ternyata tidak kuat
batin menahan serbuan gangguan dan godaan yang muncul begitu saja dan luar
biasa kuantitas dan kualitasnya dari sebuah kekuasaan. Ia menjadi temaha
(tamak), hingga tak hanya ia lupa, ia pun jadi curiga, dan mengharap lebih
dari rezeki yang semestinya ia syukuri. Ia pun berlaku secara negatif, bahkan
destruktif, untuk mempertahankan--menambah jika perlu--kekuasaan itu.
Kedua, manusia atau
pemimpin itu tidak berhasil atau tidak cukup kuat menghindar dari lingkungan
(sistem dan birokrasi, misalnya) yang memang sudah involutif dan koruptif,
yang mungkin sudah ia ketahui sebelumnya dan ia merasa mampu mengubahnya.
Hingga kemudian ia menjadi korban. Situasi itu saya kira banyak terjadi pada
pemimpin-pemimpin yang banyak orang kenali sebagai tokoh dengan rekam jejak
yang baik dan bersih. Kita ketahui beberapa nama dari mereka, tanpa perlu
kertas ini menyebutkannya.
Di golongan manakah
Anas? Anda bebas untuk menentukannya. Yang jelas, sudah menjadi pengetahuan
umum, ketika seseorang memasuki dunia politik, ada beberapa prakondisi yang
sekurangnya harus ia pahami dan bahkan--mau tak mau--jalani. Di antaranya
ialah istilah peyoratif yang kita sebut sebagai `gizi', alias uang. Prakondisi
yang meminta siapa pun pihak harus menyiapkan sejumlah uang untuk dapat
meraih posisi-posisi penting dalam struktur kekuasaan politik. Money politics
dalam kehidupan di Indonesia bukan lagi sebuah ejekan atau sindiran,
melainkan sebuah conditio yang seolah tidak terelakkan (inevitable).
Seperti dalam
birokrasi berbagai lembaga negara, sudah menjadi kemafhuman publik, tak ada
pangkat atau jabatan yang didapat dengan gratis. Bahkan kini, dalam pemilihan
ketua RT (rukun tetangga), skop terkecil dalam organisasi pemerintahan kita,
uang sudah memainkan peran yang menentukan. Terlebih untuk pemilihan lurah, wali
kota, bupati, apalagi presiden, apalagi jabatan seperti ketua umum, sebuah
parpol misalnya.
Realitas (politik) itu
tak perlulah lagi menjadi debat kusir, terutama bagi pecundang dan kaum
hipokrit. Fakta, bukti, hingga sinyalemen dan statement bahkan bukti
pengadilan tersedia untuk mementahkan semua bantahan. Sebuah realitas yang
sesungguhnya sudah memasung sejak mula kemungkinan munculmunculnya
tokoh-tokoh muda dan berkualitas untuk menjadi pemimpin karena invaliditasnya
di soal `gizi' itu.
Karena itu, bila Anda
merasa berkualitas, mau dan mampu, untuk menjadi pemimpin, bahkan mungkin
Anda diakui dan didukung banyak pihak (konstituen/publik), tetap saja Anda
harus menyiap kan `gizi' yang semakin tinggi `kurs'-nya setara dengan
tingginya posisi yang hendak Anda raih. Anda tidak boleh sekadar kaya,
apalagi setengah kaya, dan haram miskin, untuk berkompetisi di ruang realitas
semacam itu.
Tak pelak, bila
nominal `gizi' yang dibutuhkan tak dapat dipenuhi kekayaan Anda yang
dimiliki, Anda akan dikondisikan, terkondisikan, atau bahkan mengondisikan
diri agar men cari atau mendap kan sumber-sumber baru untuk menimbun `gizi'
itu. Banyak jalan. Anda bisa kompromi untuk mendapatkan utang atau kredit,
Anda bisa bernegosiasi dengan pemodal/pengusaha yang meminta imbalan setelah
Anda berkuasa, Anda bisa jadi merampok toko atau menipu banyak orang, atau
mungkin mencuri uang negara.
Itulah kemudian yang
terjadi. Sebuah realitas yang membuat semua orang di dalamnya, para pelaku,
akan segera menjadi pecundang dari sistem atau `kultur' yang terbangun secara
involutif itu. Adakah seorang pemimpin puncak, seorang ketua umum misalnya,
yang bisa membuat klaim ia terhindar dari realitas itu? Biarpun tokoh itu
ialah pendiri tunggal sebuah organisasi atau partai, ia tetap membutuhkan
`gizi' untuk membangun jaringannya, mengongkosi sendiri pertemuan-pertemuan
besar, mengongkosi program-program, bahkan membiayai pengeluaran untuk
mempertahankan posisi kepemimpinannya.
Politik yang kalah sendiri
Apakah uraian tersebut
sebenarnya hanya ingin mengatakan Anas ialah korban atau pecundang realitas
sistemik yang involutif itu? Saya harus berani menjawabnya, ya. Jauh dari
alasan yang apologetis, jawaban ini sekadar sebuah afirmasi dari sebuah
kegetiran karena kita telah membangun semacam `budaya' politik yang membusuk
secara perlahan ke dalam. Menciptakan bom waktu dalam kehidupan politik kita,
kehidupan bernegara dan berbangsa kita pada akhirnya.
Sebuah realitas
`kultural' dalam kehidupan politik kita yang, karena ulah oligarkis dan
konspiratif beberapa kepentingan, telah membuat negeri dan bangsa ini
mengalami kelangkaan dalam soal kepemimpinan yang berkualitas. Lebih jauh
lagi, kian sempit bahkan mustahilnya peluang untuk muncul pemimpin-pemimpin
baru yang cerdas, bernas, kuat, berani, serta visioner. Kita akan menjadi
bangsa yang segera kalah, bahkan menyerah, bahkan sebelum perang dinyatakan.
Ironisnya, kita menyerah dan kalah oleh diri kita sendiri.
Kita mafhum benar,
beberapa kalimat Anas setelah diinterogasi KPK ialah sebuah ekspresi yang
menggambarkan bagaimana sebenarnya kasus yang membelit dia bukanlah perkara
hukum yang innocent, melainkan juga
political game yang penuh non-sense. Kalimat yang diucapkannya
bukanlah sebuah serangan kepada (dunia/pelaku) hukum, melainkan jelas ke
(dunia/pelaku) politik. Seperti bola panas ia akan menyerang siapa pun yang
bermain api dengan politik. Bola yang seolah mengatakan kita tidak bisa
begitu naif, bahwa di balik semua perkara hukum, apalagi yang besar/nasional,
terbelit juga politik di dalamnya.
Anas ialah sebuah
pelajaran dan sebaiknya menjadi hikmah baik bagi para pendukung maupun lawan
politiknya. Tidak peduli dia masuk kategori pertama atau kedua, atau mungkin
keduanya dari uraian tersebut, kita mesti peduli pada riwayat politik yang
akan kita wariskan kepada generasi nanti. Riwayat yang tak perlu dirawat,
tapi sebaliknya harus diruwat. Diubah dan diperbaiki secara radikal, bukan
hanya sistem atau `kultur'-nya, melainkan juga dasar paradigmatik dan
filosofisnya.
Dasar yang harus memberi ruang dan peluang bagi lahirnya
pemimpin yang kita harapkan bersama. Pemimpin yang tak harus bersembunyi
dalam kamar-kamar sumpek bernama `kesatria piningit, imam mahdi, ratu adil,
notonegoro', dan sebagainya.
Namun, pemimpin yang
berdiri di mimbar, suaranya keras bingar, prinsipnya tegar, idenya segar, dan
hidupnya benar. Di situlah Indonesia, Merah Putih, akan berkibar. Mari kita
bersama, bekerja keras, menyiapkan itu mimbar, dengan sabar. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar