|
HAMPIR
68 tahun kita merdeka sebagai bangsa namun jiwa merdeka elite politik masih
jauh dari harapan. Kemiskinan, kebodohan, kurangnya rasa percaya diri sebagai
bangsa lahir dari sikap elite politik yang berjiwa tidak merdeka. Ini membuat
partai politik kurang disukai publik. Dibandingkan dengan lembaga lainnya,
partai politik merupakan lembaga yang paling kurang mendapatkan kepercayaan
dari publik.
Dari survei LSN pada Mei 2013
diketahui bahwa hanya 42,6% responden masih mempercayai partai politik. Secara
berturut-turut, institusi yang dipercaya setelah partai adalah organisasi
kemasyarakatan (57,5%), LSM (58,5%), media massa (65,1%), lembaga survei
(69,3%), dan mahasiswa (70,8%).
Proses reformasi politik telah
melahirkan kebebasan masyarakat untuk mendirikan partai politik. Jumlah partai
politik bertebaran, hidup dan mati dengan segenap ketidakjelasan.
Ideologi mereka dipertanyakan.
Dan tentu, keberpihakan mereka serta rakyat mana yang akan diperjuangkan dalam
aspirasinya juga tidak jelas. Partai-partai yang ada tidak memiliki visi dan
ideologi yang jelas, selain orientasi untuk mengejar kedudukan.
Jujur harus dikatakan bahwa
inilah cermin dari perilaku para elite di balik berdirinya partai-partai baru. Partai
lama belum juga me nunjukkan kerja yang memuaskan masyarakat, selain menambah
antipati terhadap partai, telah berdiri berbagai partai baru yang menambah
ketidakjelasan di tengah masyarakat.Ini menunjukkan bahwa partai politik
sebagai bagian penting dari politik masih belum mendapatkan tempat di hati
masyarakat.
Terlalu banyak tindakan politik
yang dilakukan partai belum sepenuhnya bisa dipercaya. Elite-elite partai lebih
banyak mendapatkan cercaan dari masyarakat daripada pujian.
Rakyat membutuhkan figur anggota
parlemen yang dekat dengan rakyat. Namun, hasrat partai politikyang ingin
dipercaya rakyat belum juga menampilkan figur yang mampu memberikan kesegaran
baru dalam politik.
Sebagian mereka bahkan berada di
lingkaran korupsi. Inilah yang membuat politik semakin kotor dan kehilangan
idealisme dalam rangka menata keadaban publik.
Pertobatan politik
Kesadaran seperti ini seharusnya
menjadi momentum pertobatan politik partai secara nasional guna mengembalikan
visi berpolitik untuk melayani publik. Partai politik bertanggung jawab untuk
memberikan wakil rakyat berkualitas.
Sebab merekalah yang akan
menentukan kualitas bangsa ini. Orientasi bangsa ini ke depan dan perubahan
yang terjadi amat bergantung pada kemampuan partai politik beserta elite-elite
di dalamnya.
Pertobatan politik harus
secepat-cepatnya dilakukan mengingat semakin lama kondisi bukan semakin
membaik. Kondisi saat para politisi partai cenderung `buas'. Terutama ketika
hasrat untuk meraih kedudukan dilakukan tanpa memperhatikan etika dan keutamaan
publik, maka kita hanya akan menyaksikan kesuraman; sebuah wajah gelap politik
negeri ini.
Partai politik selama ini lebih
banyak menjadi alat untuk memenuhi hasrat pribadi-pribadi daripada merupakan
persemaian gagasan dan perjuangan ideologi. Semua demi uang dan jabatan/kekuasaan.
Rakyat hanyalah kamuflase dalam pidato-pidato para politisi. Inilah yang
membuat negeri ini semakin hari tidak semakin kuat, malah semakin rapuh dan
keropos.
Bangunan politik hanya dilandasi
dengan kepentingan material. Akibatnya politik menjadi sanderaan para pemodal.
Karena yang dipikirkan adalah kepentingan pribadi, politik sudah tak lagi
sanggup memikirkan kepentingan kemanusiaan. Tidak ada lagi kepedulian yang
nyata untuk melindungi rakyat kecil, semua itu hanya sandiwara media.
Kekuasaan pun cenderung digunakan
untuk melayani `yang punya uang'. Ia tak bisa keluar dari lingkaran setan itu.
Rakyat adalah konsumen yang bila tak memiliki uang, ia tak mendapatkan
pelayanan. Kekuasaan cenderung menginjak yang miskin. Politik lalu bukan
menjadi tempat yang nyaman untuk memperjuangkan kepentingan publik. Politik
adalah untuk memenuhi hasrat material pribadi, atau golongan-golongan. Politik
kita mengalami disorientasi yang sangat fatal, dan parahnya itu sudah membudaya
ke segala aspek kehidupan. Samar-samar dapat kita lihat betapa kekua saan
politik digunakan secara sewenang wenang untuk melayani kepentingan pribadi,
golongan dan kroni kroni.
Harus jujur dikata kan, itulah
yang terjadi di era reformasi ini. Lalu apa gunanya masyarakat bersuka-cita
merayakan tumbangnya Orde Baru tanpa diikuti perubahan mendasar pada tingkat
mental dan moral? Kita membutuhkan perubahan secepat-cepatnya, atau semua ini
akan mewarnai wajah gelap masa depan kita. Kita membutuhkan momentum untuk
berubah sebelum semaunya terlambat. Indonesia bukanlah milik generasi hari ini,
melainkan akan diwariskan pada generasi mendatang.
Apakah kita akan mewariskan segala kebobrokan ini untuk anak cucu Indonesia
nanti?
Makna berpolitik
Kita harus menegaskan kembali
makna berpolitik dan berkekuasaan, mengembalikan makna berpolitik untuk
kepentingan perjuangan semesta, untuk memba ngun Indonesia menjadi negara yang
makmur dan luhur. Berpolitik bukan jurus aji mumpung untuk sekadar meraih
kekuasaan, berpolitik adalah seni untuk membangun kemajuan bangsa. Disorientasi
politik akan membawa bangsa ini ke jurang kesengsaraan yang amat dalam. Pada
tataran ini kita harus belajar dari para pendahulu negeri ini di mana mereka
bisa mewarnai politik dengan gagasan-gagasan besar Indonesia masa depan.
Politik tanpa visi kebangsaan
yang mendasar hanya akan menghasilkan koruptorkoruptor baru, bahkan dari
kalangan muda. Mereka yang didambakan bisa mewarnai politik Indonesia yang
lebih beradab nyatanya justru meneruskan tradisi korupsi. Politik bukan bisnis
tempat segala transaksi bermotifkan nilai ekonomis.
Berpolitik adalah untuk membangun
bangsa ini dengan penguasa yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada mereka
yang memiliki uang semata. Kebusukan politik dewasa ini ketika semua
transaksinya sudah tidak ada bedanya dengan transaksi bisnis.
Akibatnya, apa yang dipikirkan
politisinya adalah berapa banyak ia akan mendapatkan keuntungan ekonomis. Semua
komponen bangsa ini bertanggung jawab untuk mengingatkan agar politisi kita
berjalan sesuai koridor dan etika. Agar mereka tidak salah arah dalam menuntun
bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.
Pertobatan dalam kepolitikan
Indonesia diperlukan guna mengubah orientasi politik kartel, karakter pragmatis
dan menghamba pada uang belaka. Perubahan orientasi ini sejak awal harus
dimulai dari keberanian partai mengubah cara pandangnya tentang politik dan bagaimana
meraih kekuasaan.
Ideologi partai merupakan sesuatu
yang jauh lebih berharga daripada uang dan kekuasaan. Sebab di dalam ideologi
itulah tersimpan citacita rakyat yang harus diperjuangkan. Inilah yang hilang
dari kemerdekaan bangsa ini yakni tiadanya elite politik memiliki jiwa merdeka. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar