Sabtu, 17 Agustus 2013

Saatnya Partai Politik Memiliki Jiwa Merdeka

Saatnya Partai Politik Memiliki Jiwa Merdeka
Benny Susetyo Pemerhati Sosial
MEDIA INDONESIA, 16 Agustus 2013

HAMPIR 68 tahun kita merdeka sebagai bangsa namun jiwa merdeka elite politik masih jauh dari harapan. Kemiskinan, kebodohan, kurangnya rasa percaya diri sebagai bangsa lahir dari sikap elite politik yang berjiwa tidak merdeka. Ini membuat partai politik kurang disukai publik. Dibandingkan dengan lembaga lainnya, partai politik merupakan lembaga yang paling kurang mendapatkan kepercayaan dari publik.

Dari survei LSN pada Mei 2013 diketahui bahwa hanya 42,6% responden masih mempercayai partai politik. Secara berturut-turut, institusi yang dipercaya setelah partai adalah organisasi kemasyarakatan (57,5%), LSM (58,5%), media massa (65,1%), lembaga survei (69,3%), dan mahasiswa (70,8%).
Proses reformasi politik telah melahirkan kebebasan masyarakat untuk mendirikan partai politik. Jumlah partai politik bertebaran, hidup dan mati dengan segenap ketidakjelasan.

Ideologi mereka dipertanyakan. Dan tentu, keberpihakan mereka serta rakyat mana yang akan diperjuangkan dalam aspirasinya juga tidak jelas. Partai-partai yang ada tidak memiliki visi dan ideologi yang jelas, selain orientasi untuk mengejar kedudukan.

Jujur harus dikatakan bahwa inilah cermin dari perilaku para elite di balik berdirinya partai-partai baru. Partai lama belum juga me nunjukkan kerja yang memuaskan masyarakat, selain menambah antipati terhadap partai, telah berdiri berbagai partai baru yang menambah ketidakjelasan di tengah masyarakat.Ini menunjukkan bahwa partai politik sebagai bagian penting dari politik masih belum mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Terlalu banyak tindakan politik yang dilakukan partai belum sepenuhnya bisa dipercaya. Elite-elite partai lebih banyak mendapatkan cercaan dari masyarakat daripada pujian.
Rakyat membutuhkan figur anggota parlemen yang dekat dengan rakyat. Namun, hasrat partai politikyang ingin dipercaya rakyat belum juga menampilkan figur yang mampu memberikan kesegaran baru dalam politik.

Sebagian mereka bahkan berada di lingkaran korupsi. Inilah yang membuat politik semakin kotor dan kehilangan idealisme dalam rangka menata keadaban publik.

Pertobatan politik

Kesadaran seperti ini seharusnya menjadi momentum pertobatan politik partai secara nasional guna mengembalikan visi berpolitik untuk melayani publik. Partai politik bertanggung jawab untuk memberikan wakil rakyat berkualitas.

Sebab merekalah yang akan menentukan kualitas bangsa ini. Orientasi bangsa ini ke depan dan perubahan yang terjadi amat bergantung pada kemampuan partai politik beserta elite-elite di dalamnya.
Pertobatan politik harus secepat-cepatnya dilakukan mengingat semakin lama kondisi bukan semakin membaik. Kondisi saat para politisi partai cenderung `buas'. Terutama ketika hasrat untuk meraih kedudukan dilakukan tanpa memperhatikan etika dan keutamaan publik, maka kita hanya akan menyaksikan kesuraman; sebuah wajah gelap politik negeri ini.

Partai politik selama ini lebih banyak menjadi alat untuk memenuhi hasrat pribadi-pribadi daripada merupakan persemaian gagasan dan perjuangan ideologi. Semua demi uang dan jabatan/kekuasaan. Rakyat hanyalah kamuflase dalam pidato-pidato para politisi. Inilah yang membuat negeri ini semakin hari tidak semakin kuat, malah semakin rapuh dan keropos.

Bangunan politik hanya dilandasi dengan kepentingan material. Akibatnya politik menjadi sanderaan para pemodal. Karena yang dipikirkan adalah kepentingan pribadi, politik sudah tak lagi sanggup memikirkan kepentingan kemanusiaan. Tidak ada lagi kepedulian yang nyata untuk melindungi rakyat kecil, semua itu hanya sandiwara media.

Kekuasaan pun cenderung digunakan untuk melayani `yang punya uang'. Ia tak bisa keluar dari lingkaran setan itu. Rakyat adalah konsumen yang bila tak memiliki uang, ia tak mendapatkan pelayanan. Kekuasaan cenderung menginjak yang miskin. Politik lalu bukan menjadi tempat yang nyaman untuk memperjuangkan kepentingan publik. Politik adalah untuk memenuhi hasrat material pribadi, atau golongan-golongan. Politik kita mengalami disorientasi yang sangat fatal, dan parahnya itu sudah membudaya ke segala aspek kehidupan. Samar-samar dapat kita lihat betapa kekua saan politik digunakan secara sewenang wenang untuk melayani kepentingan pribadi, golongan dan kroni kroni.

Harus jujur dikata kan, itulah yang terjadi di era reformasi ini. Lalu apa gunanya masyarakat bersuka-cita merayakan tumbangnya Orde Baru tanpa diikuti perubahan mendasar pada tingkat mental dan moral? Kita membutuhkan perubahan secepat-cepatnya, atau semua ini akan mewarnai wajah gelap masa depan kita. Kita membutuhkan momentum untuk berubah sebelum semaunya terlambat. Indonesia bukanlah milik generasi hari ini, melainkan akan diwariskan pada generasi mendatang.
Apakah kita akan mewariskan segala kebobrokan ini untuk anak cucu Indonesia nanti?

Makna berpolitik

Kita harus menegaskan kembali makna berpolitik dan berkekuasaan, mengembalikan makna berpolitik untuk kepentingan perjuangan semesta, untuk memba ngun Indonesia menjadi negara yang makmur dan luhur. Berpolitik bukan jurus aji mumpung untuk sekadar meraih kekuasaan, berpolitik adalah seni untuk membangun kemajuan bangsa. Disorientasi politik akan membawa bangsa ini ke jurang kesengsaraan yang amat dalam. Pada tataran ini kita harus belajar dari para pendahulu negeri ini di mana mereka bisa mewarnai politik dengan gagasan-gagasan besar Indonesia masa depan.

Politik tanpa visi kebangsaan yang mendasar hanya akan menghasilkan koruptorkoruptor baru, bahkan dari kalangan muda. Mereka yang didambakan bisa mewarnai politik Indonesia yang lebih beradab nyatanya justru meneruskan tradisi korupsi. Politik bukan bisnis tempat segala transaksi bermotifkan nilai ekonomis.

Berpolitik adalah untuk membangun bangsa ini dengan penguasa yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada mereka yang memiliki uang semata. Kebusukan politik dewasa ini ketika semua transaksinya sudah tidak ada bedanya dengan transaksi bisnis.

Akibatnya, apa yang dipikirkan politisinya adalah berapa banyak ia akan mendapatkan keuntungan ekonomis. Semua komponen bangsa ini bertanggung jawab untuk mengingatkan agar politisi kita berjalan sesuai koridor dan etika. Agar mereka tidak salah arah dalam menuntun bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.

Pertobatan dalam kepolitikan Indonesia diperlukan guna mengubah orientasi politik kartel, karakter pragmatis dan menghamba pada uang belaka. Perubahan orientasi ini sejak awal harus dimulai dari keberanian partai mengubah cara pandangnya tentang politik dan bagaimana meraih kekuasaan.


Ideologi partai merupakan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang dan kekuasaan. Sebab di dalam ideologi itulah tersimpan citacita rakyat yang harus diperjuangkan. Inilah yang hilang dari kemerdekaan bangsa ini yakni tiadanya elite politik memiliki jiwa merdeka. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar