|
Kudeta
yang dilakukan militer Mesir pimpinan Menteri Pertahanan Jenderal Abdel Fattah
al-Sisi merupakan tindakan gegabah tanpa perhitungan matang. Bagaimanapun,
Muhammad Mursi dari Partai Kebebasan dan Keadilan--sayap politik Ikhwanul
Muslimin--adalah presiden sipil pertama yang terpilih secara bebas dan demokratis
setahun lalu.
Militer
menuduh dia dan pentolan Ikhwanul Muslimin (IM) lainnya, seperti Khairat
el-Shater (wakil pemimpin tertinggi IM) dan Deputi Pemimpin IM Rashad Bayumi,
telah mengompori pendukung IM sehingga terjadi bentrokan antara pendukung dan
penentang Mursi yang menyebabkan delapan anggota anti-Mursi tewas. Tuduhan itu
mengada-ada. Militer juga menuduh Mursi dan kawan-kawan telah menghina pengadilan.
Sedangkan, kelompok oposisi anti-Mursi menuduh Mursi tak sanggup mengatasi
masalah politik dan ekonomi sehingga Mesir semakin terpuruk. Situasi ekonomi
Mesir memang memburuk. Tapi, situasi tersebut bukan diciptakan oleh
pemerintahan Mursi saja, itu juga ekses dari ketidakstabilan ekonomi sejak
revolusi pada 25 Januari 2011.
Berkuasanya
militer yang mendapat resistensi dari partai-partai politik telah menimbulkan
ketegangan politik yang berdampak pada memburuknya situasi ekonomi akibat arus
masuk investasi asing ke Mesir setelah revolusi mencapai titik nol. Devisa dari
sektor pariwisata anjlok hingga 80 persen dan Mesir merugi 40 juta dolar AS per
hari akibat terganggunya sektor wisata ini. Tingkat kemiskinan di Mesir naik
tajam hingga 70 persen. Utang luar negeri mencapai 180 miliar dolar AS atau 90
persen dari pendapatan domestik Mesir.
Secara
politik, kudeta militer telah membuat masyarakat Mesir terpecah belah. IM dan
Jamaah Islamiyah yang mendukung Mursi di satu pihak dan kelompok nasionalis,
sekuler, sosialis, liberal, dan Tamarud (pemberontak) di pihak lain.
Tamarud adalah kelompok pemuda yang dibentuk April lalu, yang menjadi pionir
pemakzulan Mursi. Mereka mengklaim berhasil mendapatkan 20 juta tandatangan
anti-Mursi untuk mendelegitimasi pemerintahan Mursi. Toh, ketika menang dalam
pemilu Juni tahun lalu, Mursi hanya mendulang sekitar 13 juta suara.
Kelompok
opisisi sejak 30 Juni lalu, bertepatan dengan satu tahun kepresidenan Mursi,
melakukan unjuk rasa di Alun-Alun Tahrir, Kairo, dan kota-kota penting lainnya.
Mereka menuntut Mursi turun. Dan, ketika militer mengambil alih kekuasaan,
jutaan rakyat dari kelompok oposisi turun ke jalan menyambut kudeta itu.
Bahkan, Syeikh Agung al-Azhar Ahmad Tayyib, Ketua Gereja Koptik Mesir Pope
Tawadros II, Koordinator Front Penyelamatan Nasional Mohammad El Baradei, dan
Sekjen Partai Nur (sayap politik gerakan Salafi ) Jalal Marrah juga menyambut
kudeta itu.
Di pihak
lain, pendukung IM dan kaum Islamis lain juga turun ke jalan menuntut Mursi
dikembalikan ke tampuk kekuasaan karena dialah pemegang sah mandat rakyat.
Mursi dan pentolan IM lain meminta rakyat turun ke jalan --sebagai tandingan unjuk
rasa kaum oposisi--dengan tidak melakukan aksi-aksi kekerasan dan
anarkis. Tapi, pada 7 Juli mereka dibantai tentara yang menyebabkan 51
orang tewas dan ratusan lainnya cedera. Aksi ini menyebabkan eskalasi
ketegangan militer dan kaum Islamis semakin serius dan membuat masyarakat
semakin terbelah. Syeikh Agung al-Azhar Ahmad Tayyib pun menangguhkan
dukungan mereka terhadap upaya militer untuk membentuk pemerintahan sementara
di bawah kepemimpinan Presiden Adly Mahmud Mansur.
Determinasi
kaum Islamis untuk menekan militer agar mengembalikan Mursi ke tampuk kekuasaan
semakin kuat setelah mereka didukung oleh tokoh intelektual dan ulama Mesir. "Jalan
keluar terbaik adalah mengembalikan keabsahan Presiden Mursi, baru kemudian dialog
untuk pemilihan dini," kata Prof Dr Sahar Khamis, pakar komunikasi dari
University of Meryland, Amerika Serikat (AS). Menurut dia, dengan alasan apa
pun, militer tidak boleh campur tangan dalam masalah politik.
Militer
itu digaji rakyat dan diberi alat perang untuk mempertahankan kedaulatan
negara, bukan untuk bermain politik. Penilaian senada diutarakan analis politik
Fahmy Howeidi. Prof Dr Syeikh Yusuf Qardhawy, ulama kharismatik yang sangat
berpengaruh di Mesir dan dunia Islam, juga mengutuk sikap militer yang
melengserkan Mursi. Untuk mendapat dukungan AS dan sekutu Baratnya, serta
memuaskan kaum oposisi, militer mengangkat El Baradei, tokoh sekuler-liberal,
sebagai wapres, dan PM Hazem el-Bablawi, mantan menteri keuangan pascarezim
Husni Mubarak. Presiden sementara Adly Mansur pun mengeluarkan dekrit yang
terdiri dari 33 butir yang, antara lain, menentukan komite amendemen konstitusi
dalam waktu 15 hari.
Selanjutnya,
diadakan amendemen butir-butir konstitusi dalam dua bulan.
Berikut, hasil amendemen itu akan diserahkan kepada rakyat melalui referendum. Pemilu parlemen kemudian akan digelar dua bulan setelah referendum rakyat atas amendemen konstitusi itu digelar. Tahapan selanjutnya, mengumumkan jadwal pemilu presiden sepekan setelah sidang pertama parlemen baru hasil pemilu.
Berikut, hasil amendemen itu akan diserahkan kepada rakyat melalui referendum. Pemilu parlemen kemudian akan digelar dua bulan setelah referendum rakyat atas amendemen konstitusi itu digelar. Tahapan selanjutnya, mengumumkan jadwal pemilu presiden sepekan setelah sidang pertama parlemen baru hasil pemilu.
Dekrit
ini ternyata menyenangkan AS yang tadinya prihatin dengan kudeta militer. Tapi,
Tamarud dan Partai Nur menolak karena mereka tidak diajak bicara oleh militer
dan presiden da- lam pembuatan dekrit itu. Kaum Islamis sendiri menolak dekrit
itu. Bila karut-marut politik ini tidak segera diatasi dengan terobosan politik
yang memuaskan IM, diperkirakan akan terjadi radikalisasi Islamis Mesir.
Tanda-tanda
itu sudah terlihat. Dalam beberapa hari ini, segera setelah Mursi dimakzulkan,
terjadi beberapa serangan di berbagai tempat di Gurun Sinai, Mesir, termasuk
peledakan pipa minyak dari Mesir ke Yordania. Tidak sulit menemukan senjata
gelap di Mesir saat ini sejak kejatuhan pemerintahan Muamar Qadafi, karena kaum
Muslim militan berhasil mendapatkan senjata dari depot-depot senjata
Libya.
Jika
tidak ada terobosan politik untuk rekonsiliasi antara IM dan militer-Front
Penyelamatan Nasional, dan peminggiran IM dari kekuasaan, akan terjadi
radikalisasi kaum Islamis. Mesir mungkin akan menjadi seperti Aljazair pada
tahun 1992 ketika militer mengambil alih kekuasaan setelah partai Islam FIS
memenangi pemilu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar