|
Tidak terasa puasa Ramadan yang kita jalani ini akan segera
berakhir. Tentu kita merasakan kesedihan luar biasa, di samping sebuah
pertanyaan: apakah Ramadan yang akan datang kita akan kembali bersua dan
merasakan nikmatnya beribadah di bulan Ramadan?
Wallahu a’lam bishshawab. Tetapi sesungguhnya bila kita menghayati dan melihat realitas dengan keimanan kita, betapa Ramadan ini telah mengubah kita dalam banyak hal. Dua di antaranya adalah kentalnya etos berbagi dan terpupuknya nilai persaudaraan. Bulan Ramadan mengajari kita peduli kepada warga sekitar, yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang pinggiran. Kenyataan ini bisa dilihat dengan banyak artis, politisi, atau para selebiritas blusukan, membagikan makanan untuk takjil atau makanan untuk sahur sampai ke daerah-daerah pinggiran.
Terlepas motivasi pencitraan atau karena motivasi lain, biarlah urusan mereka pribadi dengan Allah, tetapi semangat etos berbagi inilah yang membuat mereka menyadari bahwa rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saat siang hari, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang telantar, anak yatim yang tiada orang tua, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak.
Apakah terhadap penderitaan mereka, karena kondisi ekonomi atau disebabkan bencana alam, kita tidak merasa prihatin sehingga kita tidak peduli untuk membantu saudara-saudara kita? Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta agama. Juga Allah mengatakan orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
Wallahu a’lam bishshawab. Tetapi sesungguhnya bila kita menghayati dan melihat realitas dengan keimanan kita, betapa Ramadan ini telah mengubah kita dalam banyak hal. Dua di antaranya adalah kentalnya etos berbagi dan terpupuknya nilai persaudaraan. Bulan Ramadan mengajari kita peduli kepada warga sekitar, yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang pinggiran. Kenyataan ini bisa dilihat dengan banyak artis, politisi, atau para selebiritas blusukan, membagikan makanan untuk takjil atau makanan untuk sahur sampai ke daerah-daerah pinggiran.
Terlepas motivasi pencitraan atau karena motivasi lain, biarlah urusan mereka pribadi dengan Allah, tetapi semangat etos berbagi inilah yang membuat mereka menyadari bahwa rasa lapar dan dahaga yang dirasakan saat siang hari, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang telantar, anak yatim yang tiada orang tua, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak.
Apakah terhadap penderitaan mereka, karena kondisi ekonomi atau disebabkan bencana alam, kita tidak merasa prihatin sehingga kita tidak peduli untuk membantu saudara-saudara kita? Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta agama. Juga Allah mengatakan orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
Di bulan Ramadan, potensi pancaindra untuk melihat realitas
ini ditunjukkan sekaligus dirasakan. Terlebih lagi di bulan Ramadan ada
kewajiban penting yang harus ditunaikan, yaitu zakat yang merupakan variabel
penting dan fundamental sebagai pembersih bagi orang berpuasa dan memberi kenikmatan
bagi orang miskin (tuhrotan lisshoimi waa
tuhmatan lil masaakin) Di samping hal tersebut, Ramadan adalah bulan yang
mengajari manusia akan pentingnya arti persaudaraan dan silaturahmi.
Nilai-nilai persaudaraan sesama muslim akan tampak jelas jika berada di bulan Ramadan, orang memberikan takjil untuk berbuka puasa secara gratis, salat berjamaah di masjid, maupun berbagi ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di masjid. Semuanya didapat gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkerama saling menanyakan kabar. Umat Islam sama-sama salat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Alquran, dan banyak makanan sedekah di masjid bahkan di hotel berbintang sekalipun. Semuanya gratis.
Persaudaraan sesama Muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus. Ada ayat Alquran yang mengajarkan kepada kita semua tentang persaudaraan. Ada banyak juga hadis Nabi yang mengingatkan kita akan pentingnya persaudaraan sesama muslim dan sesama umat manusia. Tetapi rupanya berbagai anjuran dan ajaran mengenai pentingnya persaudaraan itu jarang diperhatikan oleh banyak dari kita.
Tetapi di bulan Ramadan ini persaudaraan itu akan tampak dengan sendirinya. Demikian halnya saat kita memasuki hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri, tampak sekali betapa kuatnya nilai persaudaraan ini. Tradisi saling memaafkan menjadi bagian penting untuk mengikatkan kembali nilai persaudaraan yang pernah terkikis. pernah pudar atau terputus. Semua kembali kepada fitrah sejati kemanusiaan yang hakiki yaitu minal aidin walfaizin, taqobballahu minna waminkun. Indahnya berbagi dan bersilaturahmi yang selalu kita dapatkan dan kita jalankan di bulan Ramadan semoga menancap dalam hati.
Semoga juga pelajaran yang kita dapatkan selama Ramadan membukakan pikiran kita betapa kita itu selalu punya potensi diri untuk selalu merasakan penderitaan dan peduli akan penderitaan si papa dan si miskin sehingga akan selalu ingin berbagi di kala kita berkecukupan dan mempunyai kelebihan harta. Demikian pula keinginan untuk bersama melalui semangat ukhuwah dan silaturahmi yang kita rasakan dan kita jalankan di bulan Ramadan akan membimbing kita bahwa hidup bermusuhan bertengkar itu akan menyakitkan dan justru akan membuat kita menderita. Semoga kita selalu ingat bahwa rasa persaudaraan dan silaturahmi akan membuat kita mempunyai banyak saudara dan selalu akan menolong kita di saat kita sendiri dan di saat kita kesusahan. Semoga begitu. ●
Nilai-nilai persaudaraan sesama muslim akan tampak jelas jika berada di bulan Ramadan, orang memberikan takjil untuk berbuka puasa secara gratis, salat berjamaah di masjid, maupun berbagi ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di masjid. Semuanya didapat gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkerama saling menanyakan kabar. Umat Islam sama-sama salat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Alquran, dan banyak makanan sedekah di masjid bahkan di hotel berbintang sekalipun. Semuanya gratis.
Persaudaraan sesama Muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus. Ada ayat Alquran yang mengajarkan kepada kita semua tentang persaudaraan. Ada banyak juga hadis Nabi yang mengingatkan kita akan pentingnya persaudaraan sesama muslim dan sesama umat manusia. Tetapi rupanya berbagai anjuran dan ajaran mengenai pentingnya persaudaraan itu jarang diperhatikan oleh banyak dari kita.
Tetapi di bulan Ramadan ini persaudaraan itu akan tampak dengan sendirinya. Demikian halnya saat kita memasuki hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri, tampak sekali betapa kuatnya nilai persaudaraan ini. Tradisi saling memaafkan menjadi bagian penting untuk mengikatkan kembali nilai persaudaraan yang pernah terkikis. pernah pudar atau terputus. Semua kembali kepada fitrah sejati kemanusiaan yang hakiki yaitu minal aidin walfaizin, taqobballahu minna waminkun. Indahnya berbagi dan bersilaturahmi yang selalu kita dapatkan dan kita jalankan di bulan Ramadan semoga menancap dalam hati.
Semoga juga pelajaran yang kita dapatkan selama Ramadan membukakan pikiran kita betapa kita itu selalu punya potensi diri untuk selalu merasakan penderitaan dan peduli akan penderitaan si papa dan si miskin sehingga akan selalu ingin berbagi di kala kita berkecukupan dan mempunyai kelebihan harta. Demikian pula keinginan untuk bersama melalui semangat ukhuwah dan silaturahmi yang kita rasakan dan kita jalankan di bulan Ramadan akan membimbing kita bahwa hidup bermusuhan bertengkar itu akan menyakitkan dan justru akan membuat kita menderita. Semoga kita selalu ingat bahwa rasa persaudaraan dan silaturahmi akan membuat kita mempunyai banyak saudara dan selalu akan menolong kita di saat kita sendiri dan di saat kita kesusahan. Semoga begitu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar