|
PETANI
adalah inspirator bagi Soekarno untuk memperjuangkan kemerdekaan. Fakta
sejarah itu tercermin dari episode dialog dengan Marhaen, petani, saat Bung
Karno berjalan-jalan keluar kota daerah Cigareleng, Bandung. John D Legge
menuturkan dialog tersebut dalam buku Sukarno,
A Political Biography (1972).
Bung Karno
bertanya tentang tanah, alat produksi, dan hasil panen. “Apakah hasil panen ini
cukup untuk keperluan kamu?’’ Marhaen menjawab,’’Hasilnya pas-pasan untuk hidup
kami?’’. Bung Karno melihat bahwa Marhaen hidup dalam kemiskinan. Biang
keladinya adalah imperalisme yang mengisap rakyat. VOC sebagai persekutuan
dagang Belanda sedemikian berkuasa atas seluruh kekayaan hasil bumi Indonesia.
Tanam
paksa atau cultuurstelsel adalah
periode penderitaan petani yang sesungguhnya. Petani yang tak tahan menderita,
melakukan perlawanan. Sejarawan Indonesia Prof Dr Sartono Kartodirdjo (1984)
menulis tentang Pemberontakan Petani Banten 1888, yang merupakan kebangkitan
kaum tani melawan tirani kekuasaan.
Meski
sporadis dan bersifat lokal, perlawanan petani dilakukan lewat berbagai cara,
seperti membakar perkebunan tebu, dan lain-lain. Perang Diponegoro (1825-1830)
yang disebut The Djawa War atau Perang Jawa yang membuat Belanda hampir
bangkrut juga sangat didukung petani Jawa yang militan. Sekitar 200 ribu rakyat
tani mati dalam perang besar ini. Pun lebih dari 12 ribu orang tewas dalam
proyek Daendels ketika membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan.
Sekutu
yang mengambil alih peran Belanda setelah Jepang menyerah adalah musuh pertama
setelah proklamasi. Perang melawan Sekutu meletus di Surabaya. Inilah
pertempuran paling heroik untuk mempertahankan kemerdekaan. Belanda kembali
melakukan agresi militer I pada 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Ia tak rela
negeri jajahannya yang memberi kemakmuran, lepas begitu saja.
Tentara
kita melakukan gerilya. Pejuang dan tentara yang hidup di hutan, membaur dengan
rakyat untuk melakukan perlawanan. Sekali lagi, petani di pedesaan menjadi
mitra pejuang. Petani menyediakan pangan dan memberikan makanan, menjadi
informan, kurir dan ikut berjuang bahu-membahu dengan tentara. Aksi gerilya
Jenderal Soedirman pada agresi Belanda II, 19 Desember 1948-10 Juli 1949,
didukung pula oleh petani.
Ekspose
ini memperlihatkan kepada kita betapa petani merupakan inspirator bagi pemimpin
waktu itu untuk terus bergerak mewujudkan kemerdekaan. Petani juga menjadi
mitra para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan.
Tetap Miskin
Sekarang
nasib petani tetap tak berubah. Seperti Marhaen, petani tetap miskin. Negara
kita sudah merdeka 68 tahun, tetapi pemerintah tetap saja gagal menyejahterakan
petani. Indeks nilai tukar petani hanya bergerak pada kisaran 100, yang berarti
laju kenaikan harga kebutuhan hidup dan harga barang modal untuk produksi usaha
tani masih lebih tinggi dari laju kenaikan harga hasil usaha tani.
Derasnya
impor pangan memukul produksi petani kita: dari garam, singkong, beras, sayur,
buah, daging sapi, hingga kedelai. Petani lebih banyak menjerit karena harga
hasil pertanian mereka kalah melawan pangan impor. Padahal semua pangan impor
bisa kita produksi. Kebijakan mendasar agar petani makin sejahtera selalu sulit
terimplementasi, padahal pada tataran perencanaan sangat menakjubkan.
Kebijakan
yang membela petani jarang kita temukan. Contoh, petani di daerah sentra
produksi padi gagal panen karena serangan wereng. Pemerintah menganjurkan
mengubah pola tanam dengan palawija tanpa mau menghitung kerugian petani. Pemerintah
tak menghitung petani butuh waktu untuk sampai pada masa panen.
Inilah
gestation period yang membuat petani
menunggu untuk memanen hasil usahanya.
Lalu,
selama masa menunggu petani makan apa? Pemerintah seharusnya membela petani. Mereka
yang gagal panen diberi ganti rugi. Diberi biaya hidup sampai panen tiba, dan
saat mulai menanam padi lagi, diberi modal kerja, bibit, dan pupuk.
Pemerintah
seharusnya merancang asuransi usaha tani untuk melindungi petani dari risiko
gagal panen karena serangan hama dan penyakit atau karena iklim yang tidak
bersahabat.
Apakah
petani perlu dimanjakan? Tentu tidak! Ini adalah harga dari perjuangan petani
merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ini deviden dari saham yang mereka
miliki saat mendirikan bangsa ini.
Jangan
lupa, petani tetap berjuang hingga hari ini dan hari-hari mendatang karena
mereka harus tetap bekerja untuk menyediakan pangan bagi seluruh anak bangsa
ini. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar