Sabtu, 17 Agustus 2013

Petani dan Inspirasi Merdeka

Petani dan Inspirasi Merdeka
Norbertus Kaleka Alumnus Fakultas Pertanian UGM
SUARA MERDEKA, 16 Agustus 2013

PETANI adalah inspirator bagi Soekarno untuk memperjuangkan ke­mer­dekaan. Fakta sejarah itu tercermin dari episode dialog dengan Marhaen, petani, saat Bung Karno berjalan-jalan keluar kota daerah Cigareleng, Bandung. John D Legge menuturkan dialog tersebut dalam buku Sukarno, A Political Biography (1972).

Bung Karno bertanya tentang tanah, alat produksi, dan hasil panen. “Apakah hasil panen ini cukup untuk keperluan kamu?’’ Marhaen menjawab,’’Hasilnya pas-pasan untuk hidup kami?’’.  Bung Karno melihat bahwa Marhaen hidup dalam kemiskinan. Biang keladinya adalah imperalisme yang mengisap rakyat. VOC sebagai persekutuan dagang Belanda sedemikian ber­kuasa atas seluruh kekayaan hasil bumi Indonesia.

Tanam paksa atau cultuurstelsel adalah periode penderitaan petani yang sesungguhnya. Petani yang tak tahan menderita, melakukan perlawanan. Sejara­wan Indonesia Prof Dr Sartono Kartodirdjo (1984) menulis tentang Pemberontakan Petani Banten 1888, yang merupakan kebangkitan kaum tani melawan tirani kekuasaan.

Meski sporadis dan bersifat lokal, perlawanan petani dilakukan lewat berbagai cara, seperti membakar perkebunan tebu, dan lain-lain. Perang Diponegoro (1825-1830) yang disebut The Djawa War atau Perang Jawa yang membuat Belanda hampir bangkrut juga sangat didukung petani Jawa yang militan. Sekitar 200 ribu rakyat tani mati dalam perang besar ini. Pun lebih dari 12 ribu orang tewas dalam proyek Daendels ketika membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan.

Sekutu yang mengambil alih peran Belanda setelah Jepang menyerah adalah musuh pertama setelah proklamasi. Perang melawan Sekutu meletus di Surabaya. Inilah pertempuran paling heroik untuk mempertahankan kemerdekaan. Belanda kembali melakukan agresi militer I pada 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Ia tak rela negeri jajahannya yang memberi kemakmuran, lepas begitu saja.

Tentara kita melakukan gerilya. Pejuang dan tentara yang hidup di hutan, membaur dengan rakyat untuk melakukan perlawanan. Sekali lagi, petani di pedesaan menjadi mitra pejuang. Petani menyediakan pangan dan memberikan makanan, menjadi informan, kurir dan ikut berjuang bahu-membahu dengan tentara. Aksi gerilya Jenderal Soedirman pada agresi Belanda II, 19 Desember 1948-10 Juli 1949, didukung pula oleh petani.

Ekspose ini memperlihatkan kepada kita betapa petani merupakan inspirator bagi pemimpin waktu itu untuk terus bergerak mewujudkan kemerdekaan. Petani juga menjadi mitra para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Tetap Miskin

Sekarang nasib petani tetap tak berubah. Seperti Marhaen, petani tetap miskin. Negara kita sudah merdeka 68 tahun, tetapi pemerintah tetap saja gagal menyejahterakan petani. Indeks nilai tukar petani hanya bergerak pada kisaran 100, yang berarti laju kenaikan harga kebutuhan hidup dan harga barang modal untuk produksi usaha tani masih lebih tinggi dari laju kenaikan harga hasil usaha tani.

Derasnya impor pangan memukul produksi petani kita: dari garam, sing­kong, beras, sayur, buah, daging sapi, hingga kedelai. Petani lebih banyak menjerit karena harga hasil pertanian mereka kalah melawan pangan impor. Padahal semua pangan impor bisa kita produksi. Kebijakan mendasar agar petani makin sejahtera selalu sulit terimplementasi, padahal pada tataran perencanaan sangat menakjubkan.

Kebijakan yang membela petani jarang kita temukan. Contoh, petani di daerah sentra produksi padi gagal panen karena serangan wereng. Pemerintah menganjurkan mengubah pola tanam dengan palawija tanpa mau meng­hitung kerugian petani. Pe­merintah tak menghitung petani butuh waktu untuk sampai pada masa panen.

Inilah gestation period yang membuat petani me­nunggu untuk memanen hasil usahanya.
Lalu, selama masa menunggu petani makan apa? Pemerintah seharusnya membela petani. Me­reka yang gagal panen diberi ganti rugi. Diberi biaya hidup sampai panen tiba, dan saat mulai mena­nam padi lagi, diberi modal kerja, bibit, dan pupuk.

Pemerintah seharusnya merancang asuransi usaha tani untuk melindungi petani dari risiko gagal panen karena serangan hama dan penyakit atau karena iklim yang tidak bersahabat.

Apakah petani perlu dimanjakan? Tentu tidak! Ini adalah harga dari perjuangan petani merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ini deviden dari saham yang mereka miliki saat mendirikan bangsa ini.

Jangan lupa, petani tetap berjuang hingga hari ini dan hari-hari mendatang karena mereka harus tetap bekerja untuk menyediakan pangan bagi seluruh anak bangsa ini. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar