|
Gelora
romantik agustusan dengan alunan suara melankolis ”Selendang Sutera” atau ”Sepasang
Mata Bola” di hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan republik ini, terasa
tenggelam di balik gemuruh lagu ”Goyang Caisar” atau ”Aku Memilih Setia”-nya
Fatin X-Factor.
Tak hadir lagi
kenaifan seorang pemuda tanggung yang baru pertama kali menggenggam bedil, dan
karena itu dia salah tembak sasaran. Jiwa sang pemuda dibakar oleh semangat
yang dipompakan oleh pidato-pidato Bung Karno. Atau tidak ada lagi sejenis
kisah asmara yang terukir dari kiriman surat cinta di garis depan yang mengalir
ke dapur-dapur umum lewat kurir bersama ”setumpuk dokumen rahasia pasukan”
sebagai katarsis dari kepenatan dan pengapnya asap revolusi. Semua sudah
menjadi ”fosil” dalam kerangka kesadaran ke-Indonesia-an. Lenyap bersama
surutnya ideologi kolonialisme dan imperialisme Barat atas bangsa-bangsa Timur.
Sayangnya,
perubahan itu tidak selalu menggembirakan.
Wujud
Indonesia dalam kesadaran kita pun menjadi lain. Dia, tidak lagi berupa
gugus-gugus yang mesti dipertahankan secara fisik dari pijakan penjajahan
asing. Tak lagi berupa sebuah teritori kesadaran yang terancam karena ada
helai-helai hegemoni menyelusup ke file-file kesadaran kita dan
kemudian adalah virus yang dapat merobek sendi tulang, bahkan sumsum
kebangsaan.
Sebagai
bangsa, Indonesia serta-merta menjelma menjadi kerja keras membangun kehidupan
ekonomi, menata kehidupan politik, menyaksikan perjalanan budaya: sesuatu yang
senantiasa mesti diberi legitimasi historis dari apa yang disebut sebagai
”semangat juang ’45″ berdasarkan acuan tunggal bernama UUD 1945 yang dibingkai
oleh kesadaran ber-Pancasila.
Dari sini akan
timbul pertanyaan, apakah masih relevan mengedepankan aspek historis yang lahir
dari kancah revolusi fisik tersebut untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi
justru di tengah kecamuk keterbukaan dunia yang kian menyempitkan
pilihan-pilihan kita untuk bisa tetap bertahan?
Tentu tidak
semudah itu. mentransformasikan kesadaran era 45-an yang disemangati oleh api
nasionalisme kepada kenyataan kontemporer yang berpijak pada bara modernisme,
globalisme, bahkan post modernisme. Pada gilirannya, modernisme pun
”mengkhianati” nasionalisme 45-an itu dengan ”putra bungsu” bernama globalisme.
Bangsa ini pun
menjelma tidak sekadar sebuah ”Nation” dengan negara sebagai perwujudan
strukturnya: sesuatu yang kemudian memudahkan kita sebagai bangsa diatur dan
dikendalikan semata-mata oleh negara, yang membawa kita membela dan
mempertahankannya di tengah revolusi fisik.
Saat ini,
pasar dan media massa menjelma menjadi ”struktur” lain yang kemudian menggusur
kokohnya ”Nation” itu, bahkan hingga sampai ke tingkat kesadaran. Bagaimana
kiranya nasib ”nasionalisme” (juga patriotisme) pada kenyataan ini? Logika
pasar dan juga media massa jelas-jelas sangat berbeda dengan logika bangsa yang
mengedepankan persatuan, keutuhan, kesatupaduan.
Era
globalisasi yang muncul menderu-deru, menjelma menjadi sebuah hegemoni baru,
yang ternyata tidak lagi biadab seperti era kolonialisme dan imperialisme,
tetapi sangat ”beradab” dan bekerja secara halus serta perlahan tetapi pasti
menggerogoti tulang sumsum kebangsaan kita.
Bagaimana kita
menyikapinya? Tentu saja kita mesti memaknai perjuangan membangun bangsa ini
dengan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam berbagai pilar
kehidupan. Menegakkan supremasi hukum, melawan korupsi, tulus berbagi, jujur,
bertanggung jawab, serta rajin dalam bertindak, tegas dalam menerapkan
peraturan dan senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama yang dianut,
merupakan langkah-langkah strategis yang bisa diterapkan untuk mencapai
masyarakat yang sejahtera. Harapan kita semua, semua ini tidak sebatas slogan,
tetapi juga sebuah tindakan untuk merawat, menyelamatkan, dan membanggakan
bangsa ini dengan segenap kemampuan yang kita punya.
Dirgahayu Indonesiaku! ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar