Rabu, 07 Agustus 2013

Menjadi Besar karena Beramal

Menjadi Besar karena Beramal
Andreas Lako ;  Guru Besar Akuntansi, Dosen Manajemen CSR pada Program Pascasarjana Manajemen Unika Soegijapranata Semarang
SUARA MERDEKA, 06 Agustus 2013


‘’SIDO Muncul bisa besar seperti sekarang berkat perbuatan amal kepada sesama. Sejak 1989, kami terus mengupayakan mudik gratis Lebaran bagi karyawan dan masyarakat.”

Walaupun kemampuan masih terbatas, kami terus berupaya melakukan CSR untuk membantu masyarakat dan pemerintah. Hasilnya, ya kami bisa seperti sekarang. Ini memang sulit dijelaskan dengan logika bisnis, tapi ya itulah berkat Tuhan...” Kata-kata itu meluncur dari Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul, menjawab pertanyaan saya pada 2011.

Waktu itu saya menanyakan rahasia sukses yang menyebabkan perusahaan jamu tersebut bisa berkembang pesat, dan ia menjawab kuncinya adalah perbuatan baik kepada sesama. ”Andreas, saya selalu menekankan kepada keluarga, manajemen, dan karyawan agar selalu rukun dan berbuat baik. Saya katakan, perbuatan baik kepada orang lain pasti mendatangkan kebaikan buat kita sendiri.

Apalagi berbuat baik kepada orang-orang kecil yang hendak mudik merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman. Itu sangat mulia.’’ Saya sengaja kembali mengangkat rahasia sukses sebagaimana diuraikan Irwan Hidayat karena relevan dengan kondisi saat ini. Banyak pengusaha enggan melakukan amal baik kepada sesama melalui aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/ CSR) karena dinilai merugikan perusahaan.

Misalnya, banyak perusahaan enggan memberikan THR Lebaran yang pantas kepada karyawan atau pekerja dengan berbagai alasan. Banyak perusahaan yang sebenarnya mampu secara finansial tapi tak mau memberi fasilitas mudik gratis Lebaran kepada karyawan dan masyarakat yang telah ”berkorban” atau berjasa membantu membesarkan perusahaan itu.

Hasil riset saya menunjukkan kebanyakan pengusaha yang berperilaku seperti itu justru tidak mengalami kemajuan berarti. Banyak persoalan bisnis dan manajerial melilit perusahaannya. Pasar juga sepertinya kurang bersahabat sehingga penjualan dan penerimaan perusahaan tersumbat di sana-sini. Akibatnya, perusahaan sering mengalami kesulitan keuangan. Pengusaha yang mengalami kondisi sulit itu bukannya memperbaiki perilaku etisnya melainkan malah kian pelit dan ”kasar” terhadap karyawan atau pekerja sehingga menyebabkan kondisi sulit perusahaan kian kompleks.

Kondisi sebaliknya, justru dinikmati pengusaha yang ikhlas berbuat kebaikan kepada karyawan dan sesama yang membutuhkan. Penjualan perusahaan terus meningkat pesat dan sering melampaui target sehingga menyebabkan perusahaan kelabakan dalam kapasitas produksi dan pelayanan ke pasar. Pangsa pasar perusahaan terus meluas ke mana-mana. Keuntungan dari perusahaan-perusahaan yang baik itu juga makin berlipat ganda.

Perusahaan yang tadinya kecil lalu bertranformasi menjadi besar, dan Sido Muncul salah satu contohnya. Djarum Kudus juga layak menjadi contoh. Perusahaan rokok itu sejak 1960-an terus aktif berbuat amal baik dengan menciptakan sejumlah program CSR yang bermanfaat bagi bangsa dan negara ini. Djarum beramal untuk masyarakat melalui program CSR bakti olahraga, bakti pendidikan, bakti lingkungan, dan lainnya. 
Hasilnya, perusahaan itu tumbuh pesat menjadi salah satu raksasa di Indonesia.

Pemiliknya juga dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia dan di dunia selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah orang terkaya di dunia juga dermawan sejati. Misalnya, Bill Gates dan Warren Buffett yang menjadi orang terkaya pertama dan ketiga dunia. Mereka sering menyumbang sebagian kekayaan untuk beragam aktivitas amal (CSR) di berbagai negara miskin dan berkembang. Kekayaan mereka bukannya berkurang drastis melainkan sebaliknya: makin meningkat drastis dan tetap jadi orang terkaya.

Berkah Allah

Mengapa perbuatan CSR atau amal baik justru mendatangkan berkah berlimpah bagi pengusaha dan perusahaan dalam jangka panjang? Jawabannya sebenarnya mudah, bahkan sudah dipahami pebisnis sebagai orang-orang beriman, yaitu karena Gusti Allah ora sare! Allah tidak tidur! Tuhan memperhatikan dan melimpahkan kasih dan berkah-Nya kepada pengusaha atau perusahaan yang tulus ikhlas melakukan CSR membantu sesama yang miskin, melarat, menderita, terpinggirkan, atau yang kurang mampu.

Pengusaha dan perusahaan yang berbuat baik tersebut dikasihi dan diberkahi karena telah bertindak sebagai sarana Allah dalam memberi kasih dan berkah kepada sesama umat manusia. Cara Allah melimpahkan kasih dan berkah-Nya tersebut sangat beragam, unik, dan bahkan acap sulit dipahami oleh logika bisnis. Tapi secara bisnis bisa dijelaskan bahwa perbuatan amal kepada sesama melalui beragam aktivitas CSR mendatangkan banyak berkah. Nama baik, citra, serta reputasi pengusaha dan perusahaan makin meningkat.


Peningkatan itu berdampak positif pada keputusan ekonomi dari pihak eksternal sehingga meningkatkan akses bisnis, pangsa pasar, dan penjualan serta keuntungan perusahaan. Karena itu, janganlah takut melakukan kebaikan dan kebajikan kepada karyawan, pekerja, konsumen, dan masyarakat yang membutuhkan. Yakinlah, Tuhan akan membalas perbuatan terpuji tersebut dengan cara-cara-Nya yang unik. 

Selamat merayakan Idul Fitri kepada seluruh umat Islam. Mohon maaf lahir dan batin. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar