Minggu, 11 Agustus 2013

Memaknai Esensi Idul Fitri

Memaknai Esensi Idul Fitri
Masduri ;  Peneliti Teologi & Filsafat IAIN Sunan Ampel Surabaya
KORAN JAKARTA, 09 Agustus 2013


Orang yang benar-benar kembali suci, tentulah bisa menghabiskan (lebar) puasanya dengan sempurna sehingga habis (lebur) dosa-dosanya di masa lalu, bahkan melimpah (luber) pahala dan amal baiknya, serta bersinar cerah (labur) wajahnya. Internalisasi diri atas makna-makna simbolik inilah yang penting bagi umat muslim yang mau benar-benar ber- Idul Fitri

Idul Fitri menjadi puncak kemenangan umat Islam setelah satu bulan menjalani rangkaian ibadah puasa Ramadan. Idul Fitri menjadi ritus keagamaan yang menandai kesuksesan, keagungan, serta kesucian kembali seorang muslim sesuai kata id yang bermakna "hari raya" dan fitri yang berarti "kesucian".

Karena itulah Idul Fitri selain ramai dengan takbir kemenangan, dan salat Id ramai pula dengan aktivitas sosial berupa solidaritas berbagi makanan, silaturahim, dan saling memaafkan sehingga kehidupan yang dijalani benar-benar kembali suci. Semua itu telah mengakar dalam ritus keagamaan sekaligus budaya masyarakat.

Kehadiran ritus sosial Idul Fitri menegaskan bahwa sejatinya keyakinan teologis keagamaan masyarakat tidak saja mendorong kelahiran semangat ibadah vertikal, tetapi juga mampu menggerakkan semangat solidaritas horizontal dengan sesama manusia. Sebab, manusia sejatinya lahir atas semangat kebersamaan. Dia berdiri bukan hanya atas pribadi masing-masing, namun juga atas semangat kebersamaan sebagai khalifah fil ard di muka Bumi meski nyatanya, selama ini, kita sering disuguhi banalitas.

Falsafah kebangsaan menegaskan nilai ketuhanan sebagai penanda tegaknya sebuah negara Indonesia. Bahkan sila ketuhanan berada pada urutan pertama, tetapi mengapa banalitas kehidupan tumbuh subur di negeri ini?

Atas nama keyakinan keagamaan, tak jarang umat beragama di negeri ini saling menghujat, menyesatkan, berbuat kekerasan, bahkan saling membunuh. Lalu mereka berdalih semua itu atas nama Tuhan. Tuhan menjadi begitu menakutkan akibat ulah kelompok tertentu yang sok pahlawan menjadi orang paling suci.

Seolah-olah kebenaran hanya milik kelompok mereka. Kelompok seperti itu ingin mengeksploitasi surga milik Tuhan, padahal kebenaran mutlak milik Tuhan. Manusia hanya belajar mencari kebenaran dengan kekuatan pikiran dan hati yang dimilikinya. Seandainya manusia sadar pada fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan berkeyakinan dengan beragam bentuknya, bukan tidak mungkin banalitas kehidupan akibat persoalan keyakinan keagamaan terhindarkan. Faktanya, keyakinan keagamaan sebagai fitrah manusia malah mendorong mereka berbuat buas terhadap sesamanya.

Selain itu, korupsi telah menjamur sebagai tradisi yang mengakar dalam lingkaran kekuasaan di Indonesia. Setiap hari berita korupsi terus menjelma dalam ragam media. Banyak elite pemerintah dan politik yang terjerat dalam jeruji akibat perbuatan destruktif yang satu ini. Bahkan yang sangat disayangkan, korupsi juga dilakukan elite pemerintah dan politik dari partai berbasis agama, partai yang selama ini menggembar-gemborkan jargon dan simbol suci.

Mereka seolah-olah menjadi partai paling suci di tengah problem korupsi yang sangat akut. Namun, nyatanya sama saja, antara partai agamis dan nasionalis berpotensi korupsi karena hidup tetap kembali pada individu masing-masing. Sebaik dan secuci apa pun ideologi sebuah partai, tak akan memberi makna apa-apa jika para elitenya tidak memiliki kesadaran hidup yang tinggi.

Demikian juga dengan tingkah laku politik menjelang pesta besar demokrasi pada 2014. Kekacauan politik semakin menjadi-jadi. Semuanya sedang berburu simpati rakyat sehingga kadang-kadang melakukan cara-cara kotor demi meraup kepentingan politik. Sebab di negeri ini politik tidak lagi menjadi jalan keadaban kehidupan kebangsaan.

Politik telah menjelma sebagai gerbong penyesatan hidup karena setiap elite dan pelaku politik hanya berburu kekuasaan dan uang demi pribadi dan kelompoknya. Sementara amanat kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran bangsa seperti dipesankan dalam Pembukaan UUD 1945 telah dikubur dalam-dalam tanpa mereka risaukan sedikit pun.

Akar Keadaban

Sebagai bangsa yang berdiri atas dasar ketuhanan dalam sila pertama, sejatinya sudah sangat jelas akar terwujudnya keadaban kebangsaan, ada pada keyakinan keagamaan. Keyakinan keagamaan telah menjanjikan kehidupan kebahagiaan yang mengabadi sehingga mudah mendorong segenap bangsa menuju keadaban.

Kesadaran akan terbatasnya waktu dalam hidup mendorong manusia yang yakin akan keberadaan Tuhan berbondong-bondong berbuat kebaikan. Mereka mudah digerakkan menuju keadaban hidup karena kehidupan mereka telah dipasrahkan kepada Tuhan. Jalan Tuhan adalah kebenaran. Jalan kebenaran adalah jalan keadaban hidup.

Maka, Idul Fitri sebagai ritus keagamaan Islam menegaskan pesan keadaban hidup sebagai puncak kemenangan umat muslim. Idul Fitri hadir untuk mempertegas semangat ketakwaan. Menahan diri dalam puasa berarti dorongan agar manusia tidak melakukan perbuatan destruktif sebab dia tidak dapat memungkiri memiliki kecenderungan destruktif (Thomas Hobbes). Di sisi lain, manusia juga memiliki kecenderungan konstruktif (Murtadha Mutahhari).

Kecenderungan berbuat konstruktif inilah yang juga diajarkan dalam puasa agar manusia senantiasa memperbanyak amal kebaikan sebagai keadaban dalam membangun kehidupan kebangsaan yang bermartabat.

Kisah Sayyidina Ali kiranya penting disimak. Suatu ketika, dalam suasana Idul Fitri, seseorang berkunjung ke rumah Ali saat sedang makan roti keras. Orang itu berkata, "Dalam suasana hari raya engkau makan roti keras?"

Ali menjawab, "Hari ini adalah Id (hari raya) orang yang diterima puasanya, disyukuri usahanya, dan diampuni dosanya. Hari ini Id bagi kami, demikian juga esok. Malah setiap hari, saat engkau tidak membuat durhaka kepada Allah, merupakan Id."

Jadi, bagi Sayyidina Ali, hari raya tidak terbatas hanya pada Idul Fitri ataupun Idul Adha. Semua hari adalah hari raya, asalkan segala tingkah laku diarahkan pada jalan kebaikan menuju keadaban hidup dalam harmoni kebersamaan yang berkeadilan. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar