|
Sejak memasuki bulan Ramadhan,
tingkat kehadiran anggota DPR di rapat paripurna semakin memprihatinkan.
Untuk rapat
paripurna dengan tujuh agenda penting (misalnya, laporan Komisi XI mengenai
hasil pembahasan calon deputi gubernur Bank Indonesia; laporan Komisi I
mengenai hasil pembahasan calon anggota Komisi Penyiaran Indonesia; dan
pengesahan pembentukan Pansus RUU tentang Keuangan Negara), seperti pada 11
Juli 2013, tercatat 240 anggota DPR yang absen. Pada April lalu, tercatat 471
anggota DPR membolos rapat paripurna.
Berita basi
sekaligus menyebalkan! Basi karena seringnya membolos. Menyebalkan karena
dikritik sepedas apa pun mereka tetap ndablek!
Dan, jangan lupa, perilaku membolos rapat itu hanya salah satu kebobrokan
perilaku sebagian anggota DPR. Masih banyak perilaku lain yang tak kalah
menyedihkan. Sebutlah seperti perilaku korupsi, tidak produktif padahal digaji
mahal, dan hedonisme (pelesiran misalnya).
Sementara itu,
saat-saat ini partai-partai politik sudah mulai sibuk belingsatan mengintip dan
menyeleksi para calon anggota legislatif (caleg). Sebuah proses seleksi
kepemimpinan politik sedang dipersiapkan habis-habisan, tanpa pernah mau peduli
kualitas minus para calegnya selama ini. Selama ini rakyat menonton mereka,
selama ini pula perilaku mereka berulang.
Kualitas keinsanian
Perilaku para
anggota DPR yang notabene para pemimpin bangsa itu berhubungan dengan kualitas
keinsanian sebagai manusia. Kualitas keinsanian seorang manusia seharusnya
semakin tinggi seiring tingginya status sosial mereka, seperti para pemimpin
bangsa.
Kualitas
keinsanian manusia atau pemimpin itu didasarkan pada dua pedoman hidup (dan
kerja) yang saling terkait satu sama lain, yaitu pedoman: manfaat dan (rasa)
malu. Fondasi dari konsep kualitas keinsanian itu merupakan pernyataan Dr
Chaterine Roberts: ”Manusia, melalui pengetahuan keinsanian yang unggul, bisa
mengetahui arti menjadi seorang manusia, yaitu jika ia bisa memberikan
sumbangsih atau manfaat bagi kehidupan dan pekerjaannya. Dengan sumbangsih itu,
ia seinsani-insaninya manusia, alangkah indahnya!”
Artinya, jika
seseorang merasa malu jika tidak memberikan manfaat bagi kehidupan dan
pekerjaannya, ia layak disebut manusia atau pemimpin yang insani. Namun,
sebaliknya, jika seseorang sama sekali tak merasa malu meski tak memberikan
manfaat, ia kurang atau tidak insani. Baiklah kita kupas satu demi satu.
Pertama,
manusia atau pemimpin besar (great
people/leader). Termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang memiliki
tingkat kontribusi positif, optimal. Manusia atau pemimpin golongan ini sangat
unik karena mereka sangat mudah merasa malu; ambang rasa malunya sangat rendah.
Jika sedikit saja tidak memberikan manfaat, ia buru-buru merasa malu.
Moral kerja dan
hidup mereka adalah dengan selalu melekatkan makna di balik setiap pekerjaan
atau yang dilakukannya. Mereka tidak mau menjadi parasit atau sekadar bekerja.
Sedikit saja
tidak memberikan sumbangsih atau manfaat, mereka akan merona mukanya, merasa
malu. Mereka selalu mencari tujuan yang lebih tinggi (higher purpose) dari setiap pekerjaan atau apa pun yang menjadi
tugas dan tanggung jawabnya. Itulah yang mereka anggap sebagai makna dalam
bekerja dan kehidupan. Dan, sumbangsih atau manfaat itu sendiri dianggap
sebagai salah satu makna terluhur dalam menjalani pekerjaan dan kehidupan.
Itu sebabnya
manusia golongan ini selalu memberikan sumbangsih atau manfaat maksimal,
optimal, jauh melebihi yang mereka dapatkan. Mereka adalah manusia yang
berbuah, bagi pekerjaan dan kehidupan. Mereka inilah yang disebut manusia atau
pemimpin yang insaniah. Semakin mudah malu dan besar manfaatnya, maka semakin
insaniah mereka.
Kedua, manusia
atau pemimpin buruk (bad people/leader). Orang-orang ini mempunyai ambang rasa
malu yang (sangat) tinggi, bergerak dari titik susah merasa malu sampai tidak
punya malu. Ambang rasa malu yang tinggi itu juga terkait dengan sumbangsih
atau manfaat bagi hidup dan pekerjaan mereka. Tegasnya, mereka tak mudah malu
atau bahkan tak punya malu jika tidak memberikan manfaat (sumbangsih) sama
sekali bagi hidup dan pekerjaannya.
Golongan ini
biasanya memiliki tingkat kontribusi nihil atau minus. Moral hidup dan kerja
mereka berkebalikan dengan para manusia atau pemimpin besar. Moral hidup mereka
adalah justru kehidupan dan pekerjaan itulah yang harus memberikan manfaat bagi
dirinya. Maka, biasanya pula, manusia atau pemimpin buruk ini tak lebih dari
parasit, benalu kehidupan.
Bahkan ketika
mereka menjadi parasit bagi kehidupan dan pekerjaannya, rasa malunya juga
lenyap. Bagi mereka, bukan mereka yang harus melekatkan makna terhadap hidup
dan pekerjaan, melainkan sebaliknya: hidup dan pekerjaanlah yang harus
memberikan makna bagi mereka. Itu sebabnya mereka sering disebut manusia tak
bermakna, manusia tanpa makna. Mereka tak pernah mencari tujuan lebih
tinggi dari kehidupan dan pekerjaannya. Mereka ini termasuk manusia atau
pemimpin yang kurang dan bahkan tidak insaniah.
Manusia tanpa makna
Maka secara
sederhana bisa disimpulkan: manusia atau pemimpin yang tidak insaniah identik
dengan manusia tanpa makna, tanpa manfaat, dan tanpa malu. Apa yang bisa diharapkan
dari manusia atau pemimpin semacam itu? Kini kita bisa menilai sendiri,
termasuk golongan manakah para anggota DPR yang dimaksudkan di atas. Dengan
kasatmata pula kita bisa menilai para pemimpin bangsa ini di dimensi lainnya:
eksekutif ataupun yudikatif.
Mengingat itu
semua, saya jadi teringat ucapan Buya Hamka berikut: ”Kalau hidup sekadar
hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga
bekerja!”
Tiba-tiba saya
ingin belajar jadi manusia pemalu, asal bermanfaat bagi kehidupan dan pekerjaan
saya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar