|
Kolom Koran Tempo edisi Sabtu, 20 Juli 2013, memuat artikel
berjudul "Menyambut Museum Musik Indonesia". Tulisan Purnawan Andra
itu berisi dukungan gagasan pendirian Museum Musik di gedung Lokananta,
Surakarta. Lokananta adalah perusahaan piringan pertama milik negara yang
didirikan pada 1956, dan sudah lama tidak aktif. Menurut Purnawan Andra,
apabila Museum Musik itu berdiri, masyarakat Indonesia bisa melihat dan
mengenang 40 ribu keping piringan hitam yang merekam 5.000 lagu daerah, pop,
keroncong, tradisional, dan lain sebagainya. Sejarah musik Indonesia akan
terbaca di sana.
Gagasan ini tentu bukan pepesan kosong lantaran diucapkan
Kacung Marijan, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Dan, gagasan tersebut bisa diharapkan segera terealisasi, karena
Kacung adalah figur yang juga punya otoritas untuk melaksanakan semua
itu.
Tidak bisa tidak, masyarakat Indonesia pasti menyambut baik
ide ini. Di tengah keriuhan drama korupsi impor daging sapi sampai hiruk-pikuk
politik Pemilihan Presiden 2014, ternyata masih ada pejabat negara yang
memikirkan pelestarian seni. Di sela kedongkolan ihwal korupsi pembangunan
jalan Pantura, eh, masih ada birokrat yang berkeyakinan betapa museum tetap
bisa dipercaya sebagai sarana informasi, pendidikan, dan penelitian, selain
sebagai ruang rekreasi.
Museum apa pun, apalagi yang berkenaan dengan seni, tentu
menjadi idaman bagi masyarakat yang beradab. Sebab, seni adalah bagian yang
paling estetik dari peradaban. Pengajaran nenek moyang ratusan tahun silam
telah mengisyaratkan itu. Di Bali, misalnya, seni dilambangkan sebagai
Saraswati, sang dewi pengetahuan, kebijaksanaan, dan kesenian. Maka, Saraswati,
yang jelita, digambarkan berdiri di atas bunga teratai dengan membawa keropak
(peti kayu berisi kitab), genitri (tasbih), dan wina (alat musik). Saraswati
tampak dikelilingi angsa putih yang mencitrakan suasana surgawi indah tak
terperi. Di Jawa, sosok Saraswati juga diberi junjungan yang sama, sehingga
dijadikan lambang abadi Institut Seni Indonesia.
Harga diri
Namun, di balik gagasan itu, banyak orang yang bergumam
khawatir: membangun museum (seni) adalah mudah, tapi memelihara, mengelola, dan
mensosialisasinya susah. Mengemas sebuah museum jauh lebih gampang dibanding
mempromosikannya sebagai ruang kunjungan yang membahagiakan. Gumam itu
diberangkatkan dari berbagai pengalaman tidak elok yang menimpa berbagai museum
di Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya. Meskipun tak boleh dilupakan,
sejumlah museum Indonesia yang senantiasa terjaga dan tertata bagus di antara
Museum Tekstil, Museum di Tengah Kebun, Museum Bank Indonesia, dan Museum Pos.
Mungkin semua masih ingat peristiwa yang terjadi pada medio
Agustus 2010: 87 koleksi patung dan perhiasan emas Museum Sonobudoyo Yogyakarta
digondol maling. Padahal patung dan perhiasan di-display dalam lemari-lemari kaca
khusus (vetrine). Dari kejadian itu, Museum Sonobudoyo tak hanya kehilangan
benda sangat berharga, baik dalam nilai sejarah maupun nominalnya, tapi juga
kehilangan harga diri sebagai museum. Bayangkan, pada waktu itu pemerintah
sedang mencanangkan program "Visit Museum Year".
Raibnya koleksi Museum Sonobudoyo ini mengingatkan kita
pada hilangnya 11 patung klasik koleksi Museum Radya Pustaka, Solo, pada 2009.
Pencurian ini dijalankan lewat modus yang sistematis. Sebelum patung asli
dicuri, dibuatkan dulu patung tiruannya. Patung-patung yang konon semula milik
Sri Susuhunan Pakubuwono VIII tersebut akhirnya kembali.
Bisa dianalisis, semua kejadian itu muncul karena museum
adalah institusi yang sejak jauh hari terposisi sebagai anak tiri dalam wacana
political will pemerintah. Dengan posisi itu, sebuah museum akan hidup
compang-camping dalam segala aspeknya. Sebuah institusi miskin, yang berarti
tak mampu mensosialisasi diri, memfasilitasi diri, mengemas diri, menjaga diri,
dan mempromosikan diri akan ditinggalkan oleh banyak orang.
Dalam hukum alam, ketika si anak ditiri-tirikan, bukankah
kesunyian pun datang? Kesepian sebuah museum, sehingga menyerupai kuburan,
adalah awal dari malapetaka. Sebab, benda-benda seni yang berdiri kesepian di
situ sungguh menggoda untuk disapa dan diajak "jalan-jalan". Data
menyebutkan, pada saat kasus pencolongan terjadi, Museum Sonobudoyo dan Museum
Radya Pustaka hanya sanggup merengkuh 15-20 pengunjung sehari! Jumlah
pengunjung ini kira-kira sama dengan Museum Deli Serdang, Sumatera Utara.
Seperti disiarkan sebuah surat kabar, museum pariwisata tersebut hanya
dikunjungi tak lebih dari 5.000 orang setahun. Artinya, sehari sekitar 13
orang.
Maaf
Ini peristiwa lain lagi. Dalam lelang Christie's Singapura
pada Oktober 1996, muncul lukisan Raden Saleh dan Basoeki Abdullah, yang
ternyata milik Museum Nasional Indonesia. Setelah diselidik, dua lukisan itu
hanyalah sebagian dari belasan lukisan koleksi Museum Nasional yang dicuri dan
lantas dijual oleh "orang dalam" museum. Sebelumnya, lukisan-lukisan
tersebut cuma teronggok sepi di gudang. Negara tidak memfasilitasi display agar
publik umum bisa secara terbuka memandang-mandang.
Kisah kediaman pelukis Le Mayeur de Merpres di Bali adalah
contoh yang berbeda. Rumah seni ini mulai banyak dikunjungi orang sejak awal
1950-an. Ketika Le Mayeur wafat pada 1958, Ni Polok, isteri Le Mayeur,
mengelola studio dan tempat tinggal suaminya yang resmi sebagai museum dan
menjadi obyek wisata. Museum Le Mayeur di Pantai Sanur pun berkibar dan menjadi
maskot wisata Bali. Ni Polok meninggal pada 1985. Pada tahun itu juga, tepatnya
28 Agustus, Museum Le Mayeur diambil alih pemerintah Indonesia. Sejak 2000-an,
Museum Le Mayeur cukup sengsara nasibnya. Puluhan lukisan sang maestro yang
berharga puluhan juta sampai Rp 5 miliar di museum itu mulai lapuk.
Sebentar lagi Museum Musik akan berdiri. Kita harus
menyambutnya dengan perasaan optimistis bahwa museum itu bukan cuma didirikan
sebagai pemenuhan proyek pemerintah, tapi juga institusi yang dikelola optimal
secara berkelanjutan di segala aspeknya. Apalagi musik adalah sektor paling
populer dalam gerak hidup orang Indonesia.
Lalu, alangkah indah dan melodiusnya ketika membayangkan:
pada tahun mendatang kita sudah bisa merayakan Idul Fitri di Museum Musik
Indonesia yang kita idamkan. Tentu sambil mendengarkan penyanyi tahun 1960-an,
Oslan Hussein, mendendangkan lagu yang syairnya begini: "Selamat hari Lebaran, minal aidin walfaizin…." ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar