Selasa, 13 Agustus 2013

Idul Fitri di Musium Musik

Idul Fitri di Musium Musik
Agus Dermawan T Penulis Buku-Buku Berbasis Seni, Sosial, dan Budaya
KORAN TEMPO, 12 Agustus 2013

Kolom Koran Tempo edisi Sabtu, 20 Juli 2013, memuat artikel berjudul "Menyambut Museum Musik Indonesia". Tulisan Purnawan Andra itu berisi dukungan gagasan pendirian Museum Musik di gedung Lokananta, Surakarta. Lokananta adalah perusahaan piringan pertama milik negara yang didirikan pada 1956, dan sudah lama tidak aktif. Menurut Purnawan Andra, apabila Museum Musik itu berdiri, masyarakat Indonesia bisa melihat dan mengenang 40 ribu keping piringan hitam yang merekam 5.000 lagu daerah, pop, keroncong, tradisional, dan lain sebagainya. Sejarah musik Indonesia akan terbaca di sana.
Gagasan ini tentu bukan pepesan kosong lantaran diucapkan Kacung Marijan, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dan, gagasan tersebut bisa diharapkan segera terealisasi, karena Kacung adalah figur yang juga punya otoritas untuk melaksanakan semua itu. 
Tidak bisa tidak, masyarakat Indonesia pasti menyambut baik ide ini. Di tengah keriuhan drama korupsi impor daging sapi sampai hiruk-pikuk politik Pemilihan Presiden 2014, ternyata masih ada pejabat negara yang memikirkan pelestarian seni. Di sela kedongkolan ihwal korupsi pembangunan jalan Pantura, eh, masih ada birokrat yang berkeyakinan betapa museum tetap bisa dipercaya sebagai sarana informasi, pendidikan, dan penelitian, selain sebagai ruang rekreasi.
Museum apa pun, apalagi yang berkenaan dengan seni, tentu menjadi idaman bagi masyarakat yang beradab. Sebab, seni adalah bagian yang paling estetik dari peradaban. Pengajaran nenek moyang ratusan tahun silam telah mengisyaratkan itu. Di Bali, misalnya, seni dilambangkan sebagai Saraswati, sang dewi pengetahuan, kebijaksanaan, dan kesenian. Maka, Saraswati, yang jelita, digambarkan berdiri di atas bunga teratai dengan membawa keropak (peti kayu berisi kitab), genitri (tasbih), dan wina (alat musik). Saraswati tampak dikelilingi angsa putih yang mencitrakan suasana surgawi indah tak terperi. Di Jawa, sosok Saraswati juga diberi junjungan yang sama, sehingga dijadikan lambang abadi Institut Seni Indonesia.
Harga diri 
Namun, di balik gagasan itu, banyak orang yang bergumam khawatir: membangun museum (seni) adalah mudah, tapi memelihara, mengelola, dan mensosialisasinya susah. Mengemas sebuah museum jauh lebih gampang dibanding mempromosikannya sebagai ruang kunjungan yang membahagiakan. Gumam itu diberangkatkan dari berbagai pengalaman tidak elok yang menimpa berbagai museum di Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya. Meskipun tak boleh dilupakan, sejumlah museum Indonesia yang senantiasa terjaga dan tertata bagus di antara Museum Tekstil, Museum di Tengah Kebun, Museum Bank Indonesia, dan Museum Pos.
Mungkin semua masih ingat peristiwa yang terjadi pada medio Agustus 2010: 87 koleksi patung dan perhiasan emas Museum Sonobudoyo Yogyakarta digondol maling. Padahal patung dan perhiasan di-display dalam lemari-lemari kaca khusus (vetrine). Dari kejadian itu, Museum Sonobudoyo tak hanya kehilangan benda sangat berharga, baik dalam nilai sejarah maupun nominalnya, tapi juga kehilangan harga diri sebagai museum. Bayangkan, pada waktu itu pemerintah sedang mencanangkan program "Visit Museum Year".
Raibnya koleksi Museum Sonobudoyo ini mengingatkan kita pada hilangnya 11 patung klasik koleksi Museum Radya Pustaka, Solo, pada 2009. Pencurian ini dijalankan lewat modus yang sistematis. Sebelum patung asli dicuri, dibuatkan dulu patung tiruannya. Patung-patung yang konon semula milik Sri Susuhunan Pakubuwono VIII tersebut akhirnya kembali. 
Bisa dianalisis, semua kejadian itu muncul karena museum adalah institusi yang sejak jauh hari terposisi sebagai anak tiri dalam wacana political will pemerintah. Dengan posisi itu, sebuah museum akan hidup compang-camping dalam segala aspeknya. Sebuah institusi miskin, yang berarti tak mampu mensosialisasi diri, memfasilitasi diri, mengemas diri, menjaga diri, dan mempromosikan diri akan ditinggalkan oleh banyak orang. 
Dalam hukum alam, ketika si anak ditiri-tirikan, bukankah kesunyian pun datang? Kesepian sebuah museum, sehingga menyerupai kuburan, adalah awal dari malapetaka. Sebab, benda-benda seni yang berdiri kesepian di situ sungguh menggoda untuk disapa dan diajak "jalan-jalan". Data menyebutkan, pada saat kasus pencolongan terjadi, Museum Sonobudoyo dan Museum Radya Pustaka hanya sanggup merengkuh 15-20 pengunjung sehari! Jumlah pengunjung ini kira-kira sama dengan Museum Deli Serdang, Sumatera Utara. Seperti disiarkan sebuah surat kabar, museum pariwisata tersebut hanya dikunjungi tak lebih dari 5.000 orang setahun. Artinya, sehari sekitar 13 orang.
Maaf 
Ini peristiwa lain lagi. Dalam lelang Christie's Singapura pada Oktober 1996, muncul lukisan Raden Saleh dan Basoeki Abdullah, yang ternyata milik Museum Nasional Indonesia. Setelah diselidik, dua lukisan itu hanyalah sebagian dari belasan lukisan koleksi Museum Nasional yang dicuri dan lantas dijual oleh "orang dalam" museum. Sebelumnya, lukisan-lukisan tersebut cuma teronggok sepi di gudang. Negara tidak memfasilitasi display agar publik umum bisa secara terbuka memandang-mandang. 
Kisah kediaman pelukis Le Mayeur de Merpres di Bali adalah contoh yang berbeda. Rumah seni ini mulai banyak dikunjungi orang sejak awal 1950-an. Ketika Le Mayeur wafat pada 1958, Ni Polok, isteri Le Mayeur, mengelola studio dan tempat tinggal suaminya yang resmi sebagai museum dan menjadi obyek wisata. Museum Le Mayeur di Pantai Sanur pun berkibar dan menjadi maskot wisata Bali. Ni Polok meninggal pada 1985. Pada tahun itu juga, tepatnya 28 Agustus, Museum Le Mayeur diambil alih pemerintah Indonesia. Sejak 2000-an, Museum Le Mayeur cukup sengsara nasibnya. Puluhan lukisan sang maestro yang berharga puluhan juta sampai Rp 5 miliar di museum itu mulai lapuk. 
Sebentar lagi Museum Musik akan berdiri. Kita harus menyambutnya dengan perasaan optimistis bahwa museum itu bukan cuma didirikan sebagai pemenuhan proyek pemerintah, tapi juga institusi yang dikelola optimal secara berkelanjutan di segala aspeknya. Apalagi musik adalah sektor paling populer dalam gerak hidup orang Indonesia. 

Lalu, alangkah indah dan melodiusnya ketika membayangkan: pada tahun mendatang kita sudah bisa merayakan Idul Fitri di Museum Musik Indonesia yang kita idamkan. Tentu sambil mendengarkan penyanyi tahun 1960-an, Oslan Hussein, mendendangkan lagu yang syairnya begini: "Selamat hari Lebaran, minal aidin walfaizin…." ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar