|
Ugungan
L Wilardjo ; Fisikawan
|
KOMPAS,
10 November 2012
|
Minggu (4/11/2012) petang,
Presiden SBY di televisi menyatakan bahwa gelar ksatria dari Ratu Elizabeth
adalah wujud penghargaan dari Istana Buckingham.
Ia
menangkis gosip yang konon tersebar bahwa gelar itu dianugerahi atas
permohonan dari Jakarta. Seharusnya rakyat Indonesia bangga bahwa presidennya
mendapat penghargaan.
Saya
kuper bin telmi (kurang perhatian dan telat mikir). Sebelum ada pernyataan
SBY kepada publik, saya tidak pernah mendengar gosip menggusarkan itu.
Sedemikian pentingnya meluruskan sas-sus itu, sampai SBY tampil. Tidak
melalui juru bicaranya.
Di
dunia pewayangan, Adipati Karno, Raja Awangga, adalah
Adirata
adalah sais kereta Adipati Drestrarastra, penguasa Kerajaan Astina. Maka,
Pritaputra pun sering memperhatikan Pendeta Durna menggembleng para pangeran
Kurawa (99 orang putra Drestrarastra) dan Pandawa (5 putra mendiang raja
Astina, Prabu Pandu Dewanata) di sekolah Sokalima. Diam-diam Pritaputra
meniru sehingga ia mumpuni olah kanuragan.
Saat
pendadaran (ujian akhir) siswa-siswa Sokalima, Pritaputra juga menonton. Yang
muncul sebagai juara adalah Permadi, panengah (ketiga dari lima-bersaudara)
Pandawa. Mendengar gemuruhnya sorak-sorai menghormati Permadi, Pritaputra
”panas”. Ia lalu menantang Permadi, tetapi langsung diusir oleh kakanda
Permadi, yakni Wijasena. Sebab, pertandingan itu hanya boleh diikuti para
pangeran.
Kurawa
yang kalah dalam pendadaran melihat peluang emas. Pembayun (putra sulung)
Drestrarasta memohon kepada ayahnya agar Pritaputra diwisuda menjadi pangeran
Astina.
Ada
ubi ada talas. Pritaputra membalas budi Kurawa dengan mengabdikan diri kepada
Astina. Bahkan, setelah ia mengalahkan Prabu Karnamandra, lalu menjadi raja
di Awangga dengan sebutan Adipati Karna, ia tetap membela Kurawa sebagai
senapati (panglima perang) Astina.
Sebagai
ksatria, Adipati Karna pantang ingkar janji. Dalam perang Baratayuda ia rela
mati di tangan Arjuna, tak lain dari Permadi dan ternyata saudara tiri seibu.
Namun, sebagai ksatria, ia harus berpihak kepada kebenaran. Pandawa adalah
benteng keadilan, Kurawa personifikasi keangkaramurkaan.
Dalam
posisi yang dilematis, Karna menemukan resolusi. Ia selalu membesarkan hati
dan mengobarkan semangat Kurawa. Tanpa itu, ia tahu bahwa Kurawa akan takut
menghadapi Pandawa. Berarti Baratayuda batal. Berarti Kurawa tidak tumpas.
Berarti pula keangkaramurkaan tidak terberantas. Itu tak boleh terjadi! Karna
rela menjadi tumbal kemenangan kebenaran. Filsuf Belanda, Prof Dr Cornelis
Anthonie van Peursen, menyebut sikap Karna ”kapitulasi kreatif”.
Di
dunia nyata, pada hemat saya tokoh yang keksatriaannya sejajar dengan Adipati
Karna ialah René Descartes. Dalam bukunya, Is God a Mathematician?, Mario
Livio, astrofisikawan dan kepala humas di Institut Sains Teleskop Hubble di
Baltimore, Amerika Serikat, menyebut Descartes sebagai ”raksasa” bidang
matematika, setara Isaac Newton. Oleh ilmuwan Inggris, John Stuart Mill,
prestasi René Descartes dipuji sebagai ”langkah tunggal terbesar dalam
kemajuan ilmu-ilmu eksakta”.
René
Descartes (1596–1650) ialah ksatria Perancis. Sebagai prajurit dan patriot,
ia senantiasa siap memenuhi panggilan Ibu Pertiwi maju ke medan perang,
bahkan sampai ke Praha (waktu itu bagian dari Jerman) dan Transilvania
(sekarang Romania). Pernah juga ia ditempatkan di Breda (Belanda).
Descartes
bukan hanya prajurit. Ia juga seorang pemimpi, matematikawan, fisikawan, dan
filsuf. Kita semua mengenalnya sebagai ”bapak” Rasionalisme melalui
ucapannya, ”Je pense, donc je suis”. (Aku berpikir karena itu aku ada).
Baginya raison d’etre (alasan keberadaan)-nya ialah untuk berpikir. ”Semuanya
harus diragukan (De omnibus dubitandum),” ujarnya.
Karna
menyombongkan kehebatan sebagai senapati. Ia juga mengugung (memuji dan
menggugah keberanian) Kurawa. Sebaliknya, Descartes ialah orang ugungan. Ia
senang sekali kalau dipuji dan boleh berada di kalangan kaum ningrat.
Orang
Inggris menyebut sikap dan sifat seperti itu snobbish. Kalau menyangkut
kehormatan kaum ningrat, René Descartes adalah seorang snob. Ia merasa
terhormat bisa berkorespondensi dengan Putri Elizabeth dari Bohemia
(1618-1680).
Tahun
1649, Descartes diminta oleh Ratu Christina dari Swedia (1626–1689) untuk
menjadi guru pribadinya. Ratu berusia 23 tahun itu mengangkat Descartes
sebagai guru privat filsafat. Betapa senangnya Descartes.
Ratu
Christina memerintahkan Descartes untuk memberinya les (pelajaran) filsafat
setiap hari mulai pukul 05.00 pagi, padahal bagi Descartes yang fisiknya
lemah, udara pagi Swedia terasa sangat dingin. Ia hanya bisa bertahan
beberapa bulan. Akhirnya, René Descartes jatuh sakit. Ia meninggal 11
Februari 1650 pada usia 53 tahun.
SBY,
Adipati Karna, dan René Descartes adalah ksatria, prajurit dan orang-orang
pintar. Nama ”Descartes” diabadikan menjadi nama kota di Perancis. Sebagai
ksatria trah ningrat Bath, entahlah, saya tidak tahu apakah sebutan
formal-protokoler SBY ”Sir Susilo” (seperti ”Sir Azyumardi” bagi Prof Dr
Azyumardi Azra) atau Lord Yudhoyono.
Di
antara mereka bertiga ada persamaan sekaligus perbedaan yang membuat
masing-masing amung (unik). René Descartes jagoan di bidang iptek, SBY lebih
memberat ke sosbud. René Descartes menikmati dan gemar mendalami puisi, SBY
suka main gitar, dan mengarang lagu.
Persamaannya,
Adipati Karna (Awangga 1) mempunyai dua putra; SBY (RI 1) juga dikaruniai dua
putra. Adipati Karna mati dalam pengabdiannya kepada raja asing (Duryudana),
dan René Descartes mati dalam pengabdiannya kepada ratu asing, yakni ”GKR”
Christina dari Swedia. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar