Senin, 12 November 2012

Ugungan


Ugungan
L Wilardjo ;  Fisikawan
KOMPAS, 10 November 2012



Minggu (4/11/2012) petang, Presiden SBY di televisi menyatakan bahwa gelar ksatria dari Ratu Elizabeth adalah wujud penghargaan dari Istana Buckingham.
Ia menangkis gosip yang konon tersebar bahwa gelar itu dianugerahi atas permohonan dari Jakarta. Seharusnya rakyat Indonesia bangga bahwa presidennya mendapat penghargaan.
Saya kuper bin telmi (kurang perhatian dan telat mikir). Sebelum ada pernyataan SBY kepada publik, saya tidak pernah mendengar gosip menggusarkan itu. Sedemikian pentingnya meluruskan sas-sus itu, sampai SBY tampil. Tidak melalui juru bicaranya.
Ksatria Sejati
Di dunia pewayangan, Adipati Karno, Raja Awangga, adalah tokoh ksatria utama. Ia dilahirkan sebagai lembu peteng hasil perselingkuhan Batara Surya dengan sekar kedaton (putri raja) Mandura, Dewi Prita. Untuk menutupi aib, bayi Pritaputra dihanyutkan dengan sampan di Sungai Jamuna. Bayi ditemukan Adirata dan istrinya, Nyai Naga, dan diasuh dengan penuh kasih.
Adirata adalah sais kereta Adipati Drestrarastra, penguasa Kerajaan Astina. Maka, Pritaputra pun sering memperhatikan Pendeta Durna menggembleng para pangeran Kurawa (99 orang putra Drestrarastra) dan Pandawa (5 putra mendiang raja Astina, Prabu Pandu Dewanata) di sekolah Sokalima. Diam-diam Pritaputra meniru sehingga ia mumpuni olah kanuragan.
Saat pendadaran (ujian akhir) siswa-siswa Sokalima, Pritaputra juga menonton. Yang muncul sebagai juara adalah Permadi, panengah (ketiga dari lima-bersaudara) Pandawa. Mendengar gemuruhnya sorak-sorai menghormati Permadi, Pritaputra ”panas”. Ia lalu menantang Permadi, tetapi langsung diusir oleh kakanda Permadi, yakni Wijasena. Sebab, pertandingan itu hanya boleh diikuti para pangeran.
Kurawa yang kalah dalam pendadaran melihat peluang emas. Pembayun (putra sulung) Drestrarasta memohon kepada ayahnya agar Pritaputra diwisuda menjadi pangeran Astina.
Ada ubi ada talas. Pritaputra membalas budi Kurawa dengan mengabdikan diri kepada Astina. Bahkan, setelah ia mengalahkan Prabu Karnamandra, lalu menjadi raja di Awangga dengan sebutan Adipati Karna, ia tetap membela Kurawa sebagai senapati (panglima perang) Astina.
Sebagai ksatria, Adipati Karna pantang ingkar janji. Dalam perang Baratayuda ia rela mati di tangan Arjuna, tak lain dari Permadi dan ternyata saudara tiri seibu. Namun, sebagai ksatria, ia harus berpihak kepada kebenaran. Pandawa adalah benteng keadilan, Kurawa personifikasi keangkaramurkaan.
Dalam posisi yang dilematis, Karna menemukan resolusi. Ia selalu membesarkan hati dan mengobarkan semangat Kurawa. Tanpa itu, ia tahu bahwa Kurawa akan takut menghadapi Pandawa. Berarti Baratayuda batal. Berarti Kurawa tidak tumpas. Berarti pula keangkaramurkaan tidak terberantas. Itu tak boleh terjadi! Karna rela menjadi tumbal kemenangan kebenaran. Filsuf Belanda, Prof Dr Cornelis Anthonie van Peursen, menyebut sikap Karna ”kapitulasi kreatif”.
Ksatria ”Snobbish”
Di dunia nyata, pada hemat saya tokoh yang keksatriaannya sejajar dengan Adipati Karna ialah René Descartes. Dalam bukunya, Is God a Mathematician?, Mario Livio, astrofisikawan dan kepala humas di Institut Sains Teleskop Hubble di Baltimore, Amerika Serikat, menyebut Descartes sebagai ”raksasa” bidang matematika, setara Isaac Newton. Oleh ilmuwan Inggris, John Stuart Mill, prestasi René Descartes dipuji sebagai ”langkah tunggal terbesar dalam kemajuan ilmu-ilmu eksakta”.
René Descartes (1596–1650) ialah ksatria Perancis. Sebagai prajurit dan patriot, ia senantiasa siap memenuhi panggilan Ibu Pertiwi maju ke medan perang, bahkan sampai ke Praha (waktu itu bagian dari Jerman) dan Transilvania (sekarang Romania). Pernah juga ia ditempatkan di Breda (Belanda).
Descartes bukan hanya prajurit. Ia juga seorang pemimpi, matematikawan, fisikawan, dan filsuf. Kita semua mengenalnya sebagai ”bapak” Rasionalisme melalui ucapannya, ”Je pense, donc je suis”. (Aku berpikir karena itu aku ada). Baginya raison d’etre (alasan keberadaan)-nya ialah untuk berpikir. ”Semuanya harus diragukan (De omnibus dubitandum),” ujarnya.
Karna menyombongkan kehebatan sebagai senapati. Ia juga mengugung (memuji dan menggugah keberanian) Kurawa. Sebaliknya, Descartes ialah orang ugungan. Ia senang sekali kalau dipuji dan boleh berada di kalangan kaum ningrat.
Orang Inggris menyebut sikap dan sifat seperti itu snobbish. Kalau menyangkut kehormatan kaum ningrat, René Descartes adalah seorang snob. Ia merasa terhormat bisa berkorespondensi dengan Putri Elizabeth dari Bohemia (1618-1680).
Tahun 1649, Descartes diminta oleh Ratu Christina dari Swedia (1626–1689) untuk menjadi guru pribadinya. Ratu berusia 23 tahun itu mengangkat Descartes sebagai guru privat filsafat. Betapa senangnya Descartes.
Ratu Christina memerintahkan Descartes untuk memberinya les (pelajaran) filsafat setiap hari mulai pukul 05.00 pagi, padahal bagi Descartes yang fisiknya lemah, udara pagi Swedia terasa sangat dingin. Ia hanya bisa bertahan beberapa bulan. Akhirnya, René Descartes jatuh sakit. Ia meninggal 11 Februari 1650 pada usia 53 tahun.
Tiga Ksatria
SBY, Adipati Karna, dan René Descartes adalah ksatria, prajurit dan orang-orang pintar. Nama ”Descartes” diabadikan menjadi nama kota di Perancis. Sebagai ksatria trah ningrat Bath, entahlah, saya tidak tahu apakah sebutan formal-protokoler SBY ”Sir Susilo” (seperti ”Sir Azyumardi” bagi Prof Dr Azyumardi Azra) atau Lord Yudhoyono.
Di antara mereka bertiga ada persamaan sekaligus perbedaan yang membuat masing-masing amung (unik). René Descartes jagoan di bidang iptek, SBY lebih memberat ke sosbud. René Descartes menikmati dan gemar mendalami puisi, SBY suka main gitar, dan mengarang lagu.
Persamaannya, Adipati Karna (Awangga 1) mempunyai dua putra; SBY (RI 1) juga dikaruniai dua putra. Adipati Karna mati dalam pengabdiannya kepada raja asing (Duryudana), dan René Descartes mati dalam pengabdiannya kepada ratu asing, yakni ”GKR” Christina dari Swedia. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar