Kamis, 08 November 2012

Tradisi Pemilu AS


Tradisi Pemilu AS
Dinna Wisnu ;  Co-Founder & Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi,
Universitas Paramadina
SINDO, 07 November 2012



Hari ini warga negara Amerika Serikat (AS) melaksanakan pemilu presiden. Inilah saat yang ditunggu- tunggu banyak warga AS, bukan hanya karena hasil dari kampanye yang sudah berlangsung lebih dari 1 tahun akan diumumkan,tetapi akhirnya warga AS bisa segera kembali hidup “normal” tanpa dihantui iklan-iklan politik dan telepon para relawan yang meminta mereka segera datang ke bilik suara untuk memilih. 

Pemilu presiden di AS memang memakan waktu sangat lama dan biaya yang sangat besar. Masa kampanye yang intensif berlangsung biasanya 1 tahun sebelum hari pemungutan suara. Karena sistem pemilu yang menganut prinsip first past the post (partai yang lebih dahulu mencapai angka terbanyak dari jumlah electoral college di satu negara bagian, mereka memenangi pemilu di situ), maka negara-negara bagian yang mayoritas didiami loyalis partai tertentu dianggap sebagai basis dari partai itu. 

Negara bagian New York, New Mexico, Maine misalnya dikenal sebagai basis Partai Demokrat, sementara negara bagian Utah, Georgia, Texas, dan West Virginia dikenal sebagai basis partai Republikan. Electoral college adalah satuan unit pilih di tiap negara bagian yang bertugas mewakili suara masyarakat dalam pemilu. Total ada 538 electoral college di AS. Pembagian per negara bagian sesuai dengan sebaran jumlah penduduk. Seperti apa situasi di AS pada saat pemungutan suara berlangsung? 

Pada hari pemilu biasanya tidak ada yang terlalu istimewa. Hari pemilu selalu jatuh pada Selasa pertama di bulan November, paling cepat tanggal 2 November dan paling lambat 8 November tiap empat tahun. Hari pemungutan suara ditetapkan pemerintah sebagai hari libur.Waktu berjalan sangat cepat pada saat-saat pemungutansuara. Umumnya telepon berdering-dering mengingatkan masyarakat untuk ke bilik suara.Ada relawan yang bolakbalik menjemputwargatertentu ke lokasi pemungutan suara. Masyarakat terpaku di depan TV untuk memantau hasil penghitungan cepat (quick count). 

Yang menarik sebenarnya adalah masa-masa menjelang hari pemungutan suara. Ada gairah dan semangat besar untuk mengikuti tiap gerak-gerik capres dan cawapres.Tidak ada satu pun kegiatan yang luput dari perhatian massa. Warga bahkan membangun inisiatif berkumpul sambil makan-makan atau pesta barbeque untuk menggalang dukungan dan membahas posisi terkini para capres dan cawapres. Para aktivis partai politik aktif menanggapi perkembangan kelompok- kelompok macam itu, yang biasanya diliput media massa.

Paling seru adalah kalau Anda tinggal di wilayah swing states,yakni negara bagian yang secara tradisi mayoritas warganya bisa berpindah loyalitas dari partaisatuke lainnya disaat-saat akhir menjelang pemungutan suara. Biasanya hal ini terjadi karena beda tipis saja antara jumlah pendukung Partai Demokrat dan Republikan. Negara bagian yang dikenal sebagai swing states adalah Ohio, Florida,Virginia, North Carolina, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan,Nevada,New Hampshire, dan Colorado. Negara-negara bagian swing ini adalah penentu hasil pemilu (battle ground states). 

Karena nasib calon presiden tergantung dari negara-negara bagian ini,mayoritas dana dan waktu pemilu akan dicurahkan di tempat-tempat ini. Analis media kampanye Kantar Media sebagaimana dikutip Washington Post (28/10) mencatat bahwa sejak April 2012 ada 187.000 kali iklan politik yang diputar di Ohio, seharga hampir USD120 juta, artinya bahwa orang harus sabar mendengarkan 779 iklan per hari.TV, radio, bah-kan telepon tak hentihenti memutar iklan kampanye.

Jumlah ini jelas jauh lebih banyak daripada masa-masa saya tinggal di Ohio, padahal dulu pun rasanya sudah ter-lalu banyak iklan politik yang harus saya tonton atau dengar setiap hari. Kali ini negara bagian yang sangat disorot sebagai penentu kemenangan capres adalah Ohio dan Florida. Bayangkan suasananya tinggal di negara-negara bagianitu. Dari pengalaman,karena meluapnya perhatian politisi kepada negara bagian swing, masyarakat setempat malah cenderung enggan untuk sering-sering menonton TV. Mereka juga malas mengangkat telepon karena biasanya “diabsen” oleh para relawan tentang siapa yang akan kita pilih dan diceramahi kalau pilihan kita belum sejalur dengan pilihan mereka. 

Suasana psikologisnya sama seperti ketika di Indonesia,Anda harus menerima telepon dari orang yang menawarkan kartu kredit. Kalau radio, kita terpaksa mendengarkan karena haus hiburan juga.Tapi yang paling menarik adalah forum-forum diskusi masyarakat tadi. Khusus tentang suasana di Ohio, karena saya pernah tinggal di sana 6 tahun,suasananya memang sangat mendebarkan. Di kota besar seperti Columbus yang mana mayoritas penduduknya adalah kelas menengah terdidik dan mahasiswa dari The Ohio State University, perbincangan di kafe dan wilayah kampus sangat kaya perdebatan. 

Kelompok pendukung Partai Demokrat maupun Republikan relatif sama kuatnya. Tapi sedikit keluar ke arah pegunungan Apalachia di mana ada Ohio University dan ke arah Timur Laut ada Kota Cleveland yang banyak pabrik manufaktur, dukungan masyarakat condong ke arah Partai Demokrat.Ke arah Barat Laut, yakni Toledo dan Defiance,mayoritas condong ke Republikan. Karena peta politik yang demikian terbelah, kalau mau melihat para capres dan cawapres dari dekat, rajin-rajinlah ikut kegiatan pemilu di Ohio. Tahun ini,Romney telah mengadakan 27 acara di Ohio, total 12 hari di sana. 

Cawapres-nya, Paul Ryan, mengadakan 19 acara dalam 12 hari.Sementara itu Presiden Obama dan Wapres Biden sudah membuat masingmasing 10 acara dalam 6 hari kunjungan.Hasilnya,sampai 2 hari yang lalu posisi Republikan dan Demokrat sama kuat. Kalau sudah begini, para relawan makin giat mendorong orang untuk segera ke bilik suara sebelum the D-Day, apalagi kalau suara mereka menguntungkan kubu masingmasing. Di AS, dimungkinkan adanya pemungutan suara dini (early voting) khususnya bagi warga negara AS yang tinggal di luar negeri, termasuk personel militer. 

Sejumlah negara bagian bahkan mengizinkan surat suara dikirimkan lewat pos (biasanya di negara bagian yang penduduknya tinggal jauh dari kota-kota besar) seperti Oregon dan Washington. Ada banyak cara untuk memprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pemilu.Tapi kalau kita merasakan sendiri suasana pemilu di sana, biasanya kita cukup punya firasat siapa yang akan tampil sebagai pemenang. Khususnya ketika kita berkesempatan bertatap muka dengan capres dan cawapres. 

Contohnya pada Pemilu 2004 ketika Presiden George Walker Bush ditantang Senator John Kerry.Waktu itu ada rasa kurangsenangkepadaPresiden Bush yang berkembang, terutama karena Presiden Bush dianggap kurang bijaksana dan serampangan dalam memerangi Irak dan Afghanistan, khususnya karena mengirimkan para pemuda AS ke medan perang yang brutal tanpa hasil yang jelas bagi penciptaan rasa damai di AS.Kebanyakan analisis mengarah pada Bush sebagai underdog (tokoh yang tidak populis). 

Namun ketika debat capres digelar, lebih-lebih lagi ketika warga berkesempatan untuk menyaksikan sendiri bagaimana Bush dan Kerry berdialog dengan pemilih,nyaris tak ada keraguan bahwa Bush lebih punya karisma sebagai capres daripada Kerry. Ada kepercayaan diri dan kemantapan mengambil keputusan dalam diri Bush yang membuat pemilih di negara bagian swingseperti Ohio berbondong-bondong memilih Bush.Kebetulan sekali momen yang dibangun Bush juga tepat: ia membuat gerakan “pita kuning” yang disematkan di banyak pohon dan tiang-tiang listrik sebagai penghormatan kepada personel militer AS yang ditempatkan di Timur Tengah. 

Justru muncul kebanggaan bahwa anggota keluarga dan kawankawan mereka sesama warga AS bisa ambil bagian dalam misi penting di Timur Tengah. Waktu Pemilu 2008,karisma yang lebih besar terpancar dari Presiden Obama dibandingkan dari Senator John McCain. Obama bisa membalikkan wacana publik pada agenda penyatuan pandangan orangorang AS untuk tidak terus berseberangan dalam pengambilan kebijakan publik,apalagi karena ancaman krisis ekonomi begitu nyata di depan mata. 

Upaya McCain membangun semangat patriotisme kalah dengan itu semua karena masyarakat justru sedang menyadari bahwa kantong mereka terancam kosong.Ternyata memang Obama yang memenangi pemilu. Dalam Pemilu 2012,karisma yang lebih besar dapat dirasakan memancar dari Presiden Barack Obama.Mungkin ia tak sepopuler dulu, tetapi momen masih terlihat berpihak kepada Obama.Misalnya bencana alam Sandy yang menyapu negaranegara pantai Timur memberi kesempatan kepada Obama untuk menampilkan kecekatan pemerintah federal dalam memberikan dukungan materiil maupun moril bagi para korban. 

Sosok Romney yang memesona dalam hal kelihaian mengelola aset keuangan kelihatan kalah pamor mengingat bahwa ternyata beliau kurang fasih dalam hal pengelolaan politik internasional.Pembawaan diri Obama yang tenang dan mantap kelihatannya akan menjadi pegangan bagi warga AS untuk melalui masa-masa sulit saat ini. Tapi, tentu saja hanya Tuhan yang tahu hasil akhirnya. Kita lihat saja hasilnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar