Rabu, 14 November 2012

Nelayan, Rakyat yang Paling Miskin


Nelayan, Rakyat yang Paling Miskin
Marzuki Usman ;  Mantan Ketua Umum ISEI
SINAR HARAPAN, 13 November 2012



Ceritanya terjadi pada 1980-an. Ketika itu penulis diajak sahabat karib agar kami sekeluarga berlibur ke Pulau Kelor Timur, salah satu pulau di gugus Kepulauan Seribu, Jakarta. Pada saat itu timbul niat untuk membeli ikan segar dari kapal-kapal nelayan yang sedang menangkap ikan di sekitar Pulau Kelor Timur itu. Penulis bertanya kepada petugas yang mengelola Pulau Kelor Timur, “Apakah kita bisa membeli ikan segar dari perahu-perahu nelayan itu?” Dia menjawab, “Tidak bisa sekarang. Tetapi, Bapak bisa membeli ketika mereka sedang menangkap ikan.”

Besoknya, penulis bersama sahabat karib itu menggunakan perahu motor milik Pulau Kelor Timur membuntuti para nelayan yang sedang mencari ikan di Laut Jawa. Penulis lihat, ada satu perahu bermotor dan dua perahu tidak bermotor yang ditarik ke mana-mana oleh perahu bermotor. Tiba-tiba seseorang di perahu bermotor menunjuk-nunjuk ke satu arah. Perahu bermotor lalu menuju arah tunjukan itu, sambil menarik dua perahu tidak bermotor yang diisi penuh 15 nelayan.

Terlihat kedua perahu tidak bermotor lalu dibuat posisinya sejajar. Di antara kedua perahu itu dibentangkan serta dibenamkan jaring besar untuk menangkap ikan. Berikutnya, kelihatan bahwa 15 nelayan itu pindah ke perahu bermotor. Perahu bermotor ini kemudian bergerak membuat gerakan setengah lingkaran sambil para nelayan itu terjun ke laut, berenang menggiring ikan-ikan ke arah jaring yang sudah terpasang; kemudian diangkatkan jaring itu dan kelihatan banyak ikannya yang sudah terjaring.

Penulis bertanya kepada sahabat karib, “Apakah kita tidak bisa membeli ikannya?” Dia jawab, “Belum. Kita harus menunggu mereka membagi hasil tangkapan itu.” Ternyata cara mereka membagi adalah sebagai berikut. Pertama, orang yang menunjuk-nunjuk tadi rupanya adalah pawang ikan yang tahu di mana ikan-ikan itu berada di laut. Pawang ikan mendapat bagiannya dahulu, kemudian yang punya perahu bermotor dan perahu yang tidak bermotor. Kemudian bagiannya yang punya jaring. Para nelayan mendapat bagian yang terakhir. Kita baru boleh beli dari nelayan itu ikan hasil bagiannya. Nelayan seperti ini kita sebut sebagai Nelayan yang hanya Punya Tenaga Saja (Labor Only Fisherman). 

Posisi Nelayan yang hanya Punya Tenaga Saja ini sangat menyedihkan. Apabila hasil tangkapan ikannya sedikit, bisa-bisa mereka tidak memperoleh apa-apa.  Mereka itu, menurut infonya, bisa setiap hari sampai 15 kali berenang-renang dan baru beristirahat setelah matahari terbenam.

Para nelayan itu ketika pergi melaut selama tiga bulan bersama kaki tangan juragan pemilik kapal telah berutang kepada toko manisan milik si juragan untuk ransum anak istrinya dan untuk diri mereka sendiri. Sudah tentu oleh juragan dikenakan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Pada kenyataannya, ketika para nelayan itu kembali dari melaut, kemudian dihitung hasil perolehan melautnya, dalam banyak hal selalu berakhir dengan bertambahnya utang mereka.

Kehidupan mereka ini lebih melarat dibandingkan dengan petani penggarap. Merekalah rakyat Indonesia yang paling miskin. Ketika itu penulis berkata di dalam hati, bertanya kepada Allah, “Apakah mungkin anak-anak dari para nelayan ini bisa menjadi orang yang berhasil, alias kaya, terpandang, dan bahagia?” 

Sungguh Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Di tahun 2001, ketika penulis sebagai Menteri Kehutanan, kabinet Presiden Abdurrahman Wahid, bersama Presiden berkunjung ke Manado. Penulis bermalam di kawasan pegunungan. Penulis bermalam di satu rumah dengan Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS, Menteri Kelautan dan Perikanan. Ketika penulis bercerita kepada beliau tentang pengalaman penulis ketika melaut di tahun 1980-an dan meminta beliau untuk berbuat banyak menolong para nelayan yang nestapa ini, beliau menjawab, bahwa beliau ini dahulunya adalah anak nelayan seperti yang penulis ceritakan.

Penulis lalu bertanya, “Bagaimana ceritanya kemudian bisa menjadi orang seperti ini, padahal ayah Anda adalah nelayan yang tidak punya apa-apa?” Dia menjawab, “Betul, Pak. Para guru kepala SD dan SMP saya menangis memohon izin kepada ayah saya, supaya boleh meneruskan sekolahnya. Padahal, ayah saya sudah mengajak saya untuk berenang-renang saja menangkap ikan. Ketika saya lulus SMA, ayah mengizinkan saya kuliah ke Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah, saya dibantu oleh Yayasan Dharmaisnya Pak Harto.”

Bagaimana dengan nasib anak-anak nelayan lain yang tidak seberuntung Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS? Itulah tugas mulia bagi siapa saja yang menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014, untuk menolong kaum nelayan yang nestapa ini! Semogalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar