Konflik Tanah
dan Studi Etnologi
Endang Suryadinata ; Alumnus
Erasmus Universiteit Rotterdam, Belanda;
Tinggal di
Surabaya
|
SINAR
HARAPAN, 22 Agustus 2012
Indonesia masih menjadi negeri yang
rentan beragam konflik, yang salah satunya memicu terjadinya pelanggaran HAM,
contohnya terlihat nyata pada konflik tanah.
Menurut laporan Walhi, sepanjang
2011 terjadi 163 konflik tanah, dengan perincian 97 kasus di sektor perkebunan,
36 kasus kehutanan, 21 kasus infrastruktur, delapan kasus tambang, dan satu
kasus di sektor tambak. Total konflik tanah tersebut melibatkan lebih dari
69.975 keluarga dengan luas areal konflik mencapai 472.048,44 hektare (ha).
Menjelang peringatan 67 tahun
Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2012, dari berbagai penjuru Tanah Air, merebak
berbagai berita mengenai konflik tanah, yang membenturkan rakyat dengan aparat
keamanan (di pihak investor).
Atau ada pula perebutan tanah
antara militer yang merasa memiliki hak atas suatu lahan dengan rakyat yang
juga merasa memiliki hak serupa, seperti baru terjadi di Sumber Manjing Malang
Selatan. Kita juga masih inggat Tragedi Mesuji di Lampung yang menewaskan 32
petani, lalu disusul penembakan tiga warga sipil di Pelabuhan Sape, Bima pada
penghujung tahun lalu.
Di tengah sorotan atas kasus
dugaan suap untuk lahan kelapa sawit yang melibatkan pengusaha Hartati Murdaya,
kita jangan lupa ada ribuan kasus tanah petani yang kini berusaha dicaplok demi
perluasan perkebunan sawit.
Bayangkan, sekitar 59 persen dari
1.000 perusahaan kelapa sawit di seluruh daerah di Indonesia terlibat konflik
dengan masyarakat terkait lahan. Tim dari Ditjen Perkebunan sudah
mengidentifikasi konflik itu di 22 provinsi dan 143 kabupaten. Total ada
sekitar 591 konflik.
Konflik-konflik itu memang
berakar dari masalah tanah. Warga Mesuji, misalnya, tidak rela tanah mereka
yang sudah dimiliki turun-temurun, harus direlakan demi kepentingan pengusaha
sawit atau karet.
Warga Bima juga tak rela jika
akibat pertambangan emas, tanah mereka menjadi rusak,
sumber air menjadi
tercemar, sehingga mereka memaksa SK Bupati Bima tentang pertambangan itu
dicabut.
Pengadilan HAM
Anehnya dalam konflik tanah,
kepala daerah atau polisi pada umumnya tidak melindungi kepentingan warga,
melainkan lebih suka memihak kepentingan pengusaha.
Akibatnya, polisi yang mengklaim
sebagai abdi masyarakat justru akhirnya menjadi seperti musuh masyarakat.
Sangat menonjol sekali, dari Aceh hingga Papua, polisi bertindak tidak
proporsional hingga akhirnya terjadi pelanggaran HAM karena ada korban jiwa.
Memang berdasar Undang-Undang No
2 Tahun 2002, polisi sudah mendapat tanggung jawab untuk tugas Kamtibmas dan
penegakan hukum, termasuk dalam konflik tanah ini. Namun, ironis, dalam
melaksanakan tugasnya, polisi justru melanggar hukum dan HAM.
Menyedihkan, di tengah
penderitaan para korban, justru polisi atau pemerintah hanya sibuk membela diri
dan masih berkelit dengan mengesankan seolah meninggalnya warga sipil bukan
tanggung jawab polisi atau pemerintah.
Menteri Hukum dan HAM Amir
Syamsudin juga mengungkapkan, pemerintah SBY tidak pernah melanggar HAM. Memang
tidak ada pelanggaran HAM ketika aparat yang menembak warga hanya diadili di
pengadilan militer/internal kepolisian.
Coba kalau diadili di pengadilan
HAM, pasti akan banyak pelanggaran HAM yang bisa memelekkan mata hati penguasa
yang kini sudah tertutup kabut arogansi dan hanya ingin menjaga citra baik.
Padahal, Presiden atau pemerintah
mempunyai tanggung jawab dalam penegakan hak asasi. Pasal 28 I ayat (4) UUD
1945 menyebutkan bahwa penegakan HAM merupakan salah satu kewajiban
konstitusional pemerintah.
Instrumen hukum untuk penegakan
HAM juga sudah disediakan, seperti Undang-Undang No 39/1999 tentang HAM, UU No
26/2000 tentang Pengadilan HAM, UU No 12/2005 tentang Ratifikasi Kovenan
Internasional untuk Hak-hak Sipil dan Politik, serta UU No 40/2008 tentang
Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.
Namun, konyolnya, pemerintah
belum berani mendirikan pengadilan HAM, meski sudah ada Komnas HAM. Inilah yang
membuat Komnas HAM mandul, karena kewenangannya dibatasi. Komnas HAM juga tak
punya wibawa ketika harus berurusan dengan aparat yang melanggar HAM.
Jadi, akan sia-sia jika dibentuk
Tim Gabungan Pencari Fakta atau dibentuk tim ini tim itu, selama Presiden SBY
tidak berani mendirikan pengadilan HAM yang independen untuk mengurai sebagian
konflik tanah yang berbuntut pelanggaran HAM.
Persoalan juga menjadi rumit
ketika ada kekacauan hukum atau perundangan yang saling bertentangan.
Undang-Undang Agraria Nomor 5/1960 misalnya, membolehkan warga yang direbut
tanahnya untuk menjejakkan kaki di perkebunan.
Namun, Undang-Undang Perkebunan
No 18 Tahun 2004 justru mengizinkan aparat mengusir mereka, termasuk
mengizinkan cara-cara kekerasan. Jadi, DPR jangan diam saja atas kekacauan
undang-undang ini.
Inilah negeri yang kacau ketika
rakyat harus merelakan tanah dan kehidupannya bagi investor atau pengusaha.
Tulisan ini tidak antiinvestasi,
tetapi jelas ke depan harus dicari cara-cara yang bermartabat dalam
berinvestasi tanpa menimbulkan konflik, apalagi mengorbankan warga sipil
beserta tanah mereka. Jangan lupa, tanah bagi warga juga punya makna penting
sebagai sebuah anamnesis atau kenangan akan leluhur mereka. Ini bukan hanya
tanah yang dikategorikan sebagai tanah adat.
Belajar dari Belanda
Menjadi keharusan untuk mencari
solusi holistik dari pemerintah dan DPR agar kasus tanah ini tidak memicu
terjadinya pelanggaran HAM lagi ke depan. Yang penting lagi, mungkin kita perlu
belajar dari sejarah untuk bisa mengenal lagi beragam budaya dan cara berpikir
masyarakat lokal beserta adat istiadat, termasuk hukum adatnya terkait tanah
adat.
Mari belajar dari pemerintah
kolonial Belanda ketika menjajah Nusantara. Pemerintah Belanda amat tahu bahwa
Aceh itu Aceh, Sunda adalah Sunda, dan Jawa bukanlah Ambon. Belanda tahu
bagaimana membiarkan masyarakat setempat melanjutkan cara berpikir dan cara
mereka (adat istiadat dan budaya), sedangkan tujuan kolonialisme Belanda tetap
bisa dijalankan.
Nyaris jarang ada konflik tanah
yang berbuntut pelanggaran HAM semasa kolonialisme Belanda. Belanda malah bisa
mengumpukan 1 miliar gulden selama abad ke-18 sampai ke-19. Mengapa demikian?
Karena Belanda sungguh
mengintensifkan studi etnologi termasuk hukum adat, dengan salah satu tokohnya
Cornelis van Vollehoven. Kita mungkin juga masih ingat bagaimana Belanda
mengirimkan Snouck Hurgronje untuk memahami Aceh. Hukum adat dan kebudayaan
setempat sungguh dihargai pemerintahan kolonial Belanda.
Sayang, kini studi-studi etnologi
atau kebudayaan setempat ini sudah dipinggirkan dari perguruan tinggi kita,
sejak era Orba. Akibat anti-total terhadap Belanda, kita menjadi alergi untuk
menimba sesuatu yang sebenarnya positif dan efektif dalam meredam dan
meminimalkan konflik.
Andai kepala daerah, polisi, dan
para pengambil kebijakan kita tahu menghargai budaya dan adat istiadat warga
lokal, konflik jelas tidak perlu terjadi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar