Capgome,
Sugesti Positif, dan Kritik
Tom Saptaatmaja, ALUMNUS
STFT WIDYA SASANA MALANG;
SEMIANARI ST VINCENT DE PAUL
Sumber
: SINAR HARAPAN, 7
Februari 2012
Tahun baru Imlek adalah tahun yang paling
unik dibanding sistem kalender yang lain, karena dirayakan selama 15 hari,
bukan cuma satu hari atau sekadar satu malam seperti tahun baru Masehi. Pada
Senin (23/1) lalu, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru
China yang biasa disebut Imlek. Seluruh rangkaian kegiatan Imlek ditutup secara
lebih meriah pada hari ke-15 yang biasa disebut Capgome. Capgome jatuh pada
Senin (6/2).
Di beberapa kota besar kita, perayaan Capgome
malah lebih meriah. Di Singkawang, Kalimantan Barat, pawai Capgome malah
menjadi agenda pariwisata internasional. Dengan atraksi tatung yang berasal
dari etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu, ritual pembersihan kota di Singkawang
sungguh mengundang decak kagum.
Kemudian, sudah menjadi kelaziman, menjelang
Imlek sampai Capgome, muncul beragam ramalan. Buku-buku ramalan banyak beredar
dan laris manis di pasar. Omzetnya bisa miliaran rupiah.Tidak heran penghasilan
para peramal, astrolog atau ahli nujum juga sangat terdongkrak. Maklum, banyak
yang percaya ramalan.
Seolah seluruh hidup dalam satu tahun, mereka
begitu bergantung pada ramalan. Padahal menurut tradisi awal di China, ramalan
hanya upaya manusia untuk mengintip masa depan. Mengingat manusia tidak bisa
melihat masa depan, ramalan diperlukan sebagai semacam penunjuk arah.
Bila mau percaya ramalan, silakan. Karena itu
tulisan ini tidak bermaksud melarang ramalan. Hanya perlu diingat, ramalan bisa
bermasalah, terlebih bila ramalan buruk 100 persen dipercaya. Namun bila
ramalan tentang hal buruk disikapi sebagai peringatan, kita mungkin bisa
bersikap hati-hati.
Tapi ramalan tentang hal-hal buruk perlu
dikritisi. Kita tahu jangankan dalam ramalan, dalam kenyataan sehari-hari,
sudah banyak kita saksikan atau bahkan keburukan yang menyengsarakan itu kita
alami sendiri.
Melihat hal-hal buruk, ditambah ramalan
buruk, hanya akan membuat keburukan seolah mendominasi. Apalagi, kalau kita
sudah punya cara pandang buruk, segalanya bisa tampak sangat hitam tanpa
harapan.
Karena itu, berbagai ajaran agama samawi,
seperti Islam atau Kristen, mengajarkan ramalan astrologi atau shio
adalah haram. Percaya pada ramalan ahli nujum atau peramal adalah kemusyrikan,
karena mengambil alih peran Sang Pencipta sendiri.
Terlebih kalau kita kaitkan dengan kehidupan
berbangsa dan bernegara, rasanya ingar bingar yang ada hanya mengesankan satu
hal, bahwa seolah sudah tidak ada lagi kebaikan di negeri ini. Afirmasi atau
sugesti negatif yang terakumulasi dan tiap hari disuarakan di mana-mana bisa
sangat berbahaya bagi kehidupan kita.
Sugesti Positif
Padahal untuk meraih kemajuan dan
keberhasilan, kita semua sangat membutuhkan afirmasi positif, semisal “Masih
ada hal yang baik, kemajuan bisa diraih, aku bisa bersaing, aku bisa menang,
dan sebagainya”. Dalam konteks inilah penulis sependapat dengan ajakan Menteri
BUMN Dahlan Iskan untuk selalu mempunyai harapan.
Kebetulan pula, sebuah ramalan menyebutkan
2012 adalah tahun pencerahan dan perbaikan, karena karakter naga air yang
sifatnya menjernihkan dan mendinginkan sehingga yang bergejolak panas pada 2011
akan menjadi tenang pada 2012.
Afirmasi-afirmasi yang baik dan penuh harapan
serta mencerahkan atau menjernihkan ini jelas positif dan perlu bagi kita untuk
bisa bangkit, tetap bersemangat, memiliki harapan, dan akhirnya berhasil meraih
kemajuan.
Sebenarnya, baik agama atau psikologi sudah
mengajarkan betapa pentingnya sugesti atau afirmasi positif itu. Raja dan Nabi
Sulaiman sudah sejak lama mengajarkan, manusia akan menjadi seperti yang
dipikirkan.
Demikian juga sebuah bangsa atau negara.
Kalau kita memikirkan kebaikan dan harapan-harapan yang memberi semangat untuk
melakukan perubahan, kebaikan dan perubahan pasti akan terjadi.
Tanda-tanda yang memberi harapan itu
sebenarnya cukup banyak. Salah satunya, lembaga pemeringkat internasional Fitch
Ratings pada Desember 2011 yang telah menaikkan peringkat Indonesia ke level investment
grade. Fitch telah menaikkan Long-Term Foreign-and Local-Currency Issuer
Default Ratings (IDR) Indonesia menjadi BBB- dari BB+ dengan outlook
atas kedua peringkat tersebut stabil.
Sebaliknya, kalau kita hanya memikirkan
keburukan atau kegagalan, hal-hal ini juga akan terjadi. Di sinilah pentingnya
kita memiliki visi. Terkait ini, kita butuh pemimpin visioner yang mempunyai
visi negeri ini mau dibawa ke mana.
Visi beda dengan ramalan, karena visi
didukung perhitungan tentang risiko dan kendala secara umum. Visi tak boleh
absurd. Visi lalu dikomunikasikan dengan rakyat sehingga semua akhirnya
mempunyai visi yang sama.
Untuk menghidupi visi itu diperlukan pemimpin
berkarakter, bukan pemimpin reaktif yang mudah terjebak dalam isu tertentu dan
hanya sibuk membangun citra demi kepentingan sesaat.
Kita mungkin bisa belajar dari China. Ketika
China berdiri pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong mengkritik Amerika Serikat
sebagai kapitalis terbesar. Tapi Mao juga kagum pada AS. Ketika melancarkan
program “Lompatan Jauh ke Depan” pada 1959, Mao mempunyai obsesi, 15 tahun lagi
atau suatu saat China harus menjadi seperti AS.
Visi Mao lalu diteruskan Deng Xiaoping dan
hari-hari ini, semua orang tahu China sudah nyaris menyamai AS. China bukan
hanya menjadi macan Asia, tetapi sudah macan di level dunia. Kemajuan China
tidak lepas dari adanya pemimpin yang visioner dan kuat.
Kritik untuk Penyeimbang
Indonesia juga bisa setara dengan China, bila
Indonesia memiliki pemimpin yang tepat dan tidak lembek. Dalam berbagai
perbincangan penulis dengan banyak kalangan, rata-rata muncul pendapat senada,
salah satu kelemahan terbesar Indonesia saat ini adalah kepemimpinan.
Mantan Menteri Ekonomi Rizal Ramli pernah
mengungkapkan negeri kita begitu melimpah ruah dengan sumber daya alam dan SDM
hebat. Hanya satu kekurangan yang menonjol, yakni pemimpin negeri ini.
Akhirnya tulisan ini tidak bermaksud
mengesampingkan kritik atau kontrol. Sebab jangan lupa, untuk meraih kejayaan
dan demi kebaikan bersama, kita jangan sekali-kali alergi kritik. Seorang
pemimpin yang ingin berhasil dalam kepemimpinannya, membutuhkan “second
opinion”.
Lagi pula kritik adalah tanda utama adanya
dinamika demokrasi. Kritik hanya haram pada pemerintahan oligarki atau otoriter
seperti di era Orba dulu. Media mempunyai peran penting dalam mengemban kontrol
atas kehidupan berbangsa dan negara.
Para tokoh agama atau orang-orang cerdik
pandai berperan dalam memberikan kritik konstruktif. Kritik dibutuhkan agar ada
keseimbangan sehingga kekuasaan tidak menjadi semena-mena atau korup, tapi demi
kebaikan bersama. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar